Setelah melakukan survei titik pelepasliaran, kami bergabung dengan rapat harian tim PRM di Kamp Nles Mamse. Di sini kami menerima informasi tentang keberadaan orangutan jantan liar tidak dikenal berkeliaran di Kehje Sewen bagian Selatan. Tim melihat ia kerap bersama Leonie, orangutan betina yang dilepasliarkan September 2015 lalu. Tim berencana untuk terus memantau aktivitas mereka berdua.

Di hari ketiga, kami memutuskan untuk berjalan kaki mengecek jalur ke arah Pelangsiran, sebuah desa transit kecil di perbatasan Hutan Kehje Sewen. Namun, sebelum mencapai Pelangsiran, kami memutuskan kembali ke kamp, karena saya dan Christian kelelahan. Jarak sejauh delapan kilometer dari Kamp Nles Mams ke Pelangsiran ternyata terlalu berat bagi kami, dan kami beristirahat di dekat muara ditemani suara burung enggang dan kangkareng yang terbang bebas di sekitar kami.

Usai menunaikan tugas menentukan titik pelepasliaran orangutan di Selatan Kehje Sewen, dan di hari keempat kami kembali ke Muara Wahau, kota terdekat dengan lokasi kami. Namun, lagi-lagi kami dihadapkan dengan situasi tak terduga.

Setelah mencapai “jalan buntu”, di akhir tanjakan curam sepanjang 400 meter, sekaligus titik terjauh yang bisa dicapai kendaraan, kami ternyata masih harus menunggu rombongan mobil penjemput. Kami sudah mengatur penjemputan di pagi hari, namun tidak ada satu pun mobil yang tampak. Seakan ingin membantu menyejukkan keresahan kami, hujan mulai turun di tengah hari. Kami menunggu sepanjang hari tanpa kabar, karena kami berada di kawasan tanpa sinyal telepon. Tidak ada pilihan lain selain menunggu di bawah flying camp yang kami temukan di dekat situ, karena jalan kembali ke kamp terlalu licin apalagi setelah hujan.

Sampai matahari terbenam, belum juga ada tanda-tanda mobil datang dan kami berempat pasrah jika memang harus bermalam di hutan. Namun ketika kami baru mulai membuat api unggun, suara derungan mobil terdengar dari kejauhan. Kami semua lega melihat Pak Susilo dan Mas Heri, supir yang menjemput kami akhirnya tiba. Mereka menjelaskan, bahwa ada pohon tumbang yang memblokir jalan dari Pelangsiran, dan mereka harus menyingkirkan pohon itu terlebih dulu. Tak mau berlama-lama, kami bergegas ke Muara Wahau. Kami tiba di Muara Wahau sekitar pukul 9 malam dan beristirahat sejenak di hotel kota itu, lantas melanjutkan perjalanan kami ke Balikpapan.

Bagi Christian, yang baru saja bergabung dengan Tim Samboja Lestari, ini merupakan perjalanan pertamanya ke hutan dan sangat berkesan. Dia mengatakan, bahwa ini melelahkan, namun sangat menyenangkan! Saya setuju. Kendati perjalanan ini singkat yang melelahkan, tapi kejutan dan kejadian menarik selalu muncul saat kita melakukan perjalanan di hutan. Namun inilah yang membuatnya begitu menarik! Sampai jumpa di petualangan selanjutnya di Hutan Kehje Sewen