Archives: September 2016

September 23, 2016. Posted in Article

Pakan Alami Orangutan di Hutan Kehje Sewen

Tantangan terbesar dalam usaha melepasliarkan orangutan kembali ke alam liar adalah menemukan hutan yang cocok untuk mereka tinggali. Untuk menentukan kelayakan sebuah area hutan sebagai wilayah potensial pelepasliaran, pertama kita perlu melakukan survei fenologi menyeluruh untuk memastikan kawasan terkait memiliki ketersediaan pakan alami yang cukup untuk sepanjang tahun.

Survei fenologi meliputi pencatatan data semua pohon buah sekaligus sumber pakan lain bagi orangutan seperti kulit kayu, tunas, daun, dan serangga. Survei fenologi juga mencatat musim berbuah masing-masing pohon untuk memastikan ketersediaan makanan di musim yang berbeda.

Beberapa pakan alami orangutan yang tersedia di Hutan Kehje Sewen:

  • Ardisia sp., buah ini secara lokal dikenal sebagai lampeni atau rempeni, buah yang menyerupai buah ceri, berbentuk bulat kecil dan berwarna merah.

(Foto buah Ardisia)

  • Artocarpus sp., sejenis nangka, berkerabat dekat dengan cempedak dan sukun.

(Foto buah Artocarpus)

  • Durian yang kerap dijuluki ‘raja segala buah’. Di Hutan Kehje Sewen terdapat jenis durian yang mempunyai kulit berwarna merah, dan mengandung banyak karbohidrat, lemak, protein, dan mineral yang baik untuk orangutan.

(Foto buah durian)

  • Berbagai jenis bunga hutan, seperti Ficus aurata, Lithocarpus gracilis, dan Macaranga gigantea.

(Foto kompilasi Bunga Ficus, dll)

  • Beberapa jenis umbut, seperti umbut rotan dan umbi sejenis jahe.

(Foto: Raymond makan umbi sejenis jahe (Etlingera sp. shoots)

  • Rayap, yang kaya akan protein, dapat ditemukan dalam batang-batang pohon yang lapuk.

(Foto Angely makan rayap)

Hutan Kehje Sewen merupakan areal hutan primer yang luasnya 86.450 hektar, yang kaya akan sumber makanan bagi orangutan. Dari survei fenologi kami, yang mencatat setiap tumbuhan sekaligus seberapa banyak jumlah/kerapatannya, kami menemukan bahwa hampir 200 spesies tanaman tumbuh di sana.

Hutan Kehje Sewen kaya akan makanan bergizi bagi orangutan dan dapat mempertahankan populasi satwa lainnya. Kesulitan dalam mendapatkan hutan yang cocok untuk pelepasliaran orangutan rehabilitasi mengharuskan BOS Foundation untuk ‘menyewa’ hutan dalam skema Restorasi Ekosistem (IUPHHK-RE) sejak tahun 2010. Dengan 700 orangutan masih di bawah perawatan kami, kami berharap dukungan dari pemerintah pusat dan provinsi untuk membantu BOS Foundation mendapatkan lebih banyak kawasan hutan pelepasliaran.

Teks oleh: Tim PRM di Hutan Kehje Sewen

Dalam rangka merayakan ulang tahun BOS Foundation ke-25 di tahun ini, kami berharap orangutan akan terus hidup dengan aman di habitat alami mereka yang baru. Kami akan melakukan yang terbaik untuk terus memantau perkembangan mereka dan berharap untuk mendapatkan laporan terbaru yang menarik terkait adaptasi mereka di tahun ini! Kamu bisa mendukung tim kami dan kegiatan pemantauannya. DONASI SEKARANG ke BOS Foundation dan membuat perubahan bagi kelangsungan hidup masa depan orangutan!

Perjalanan Singkat Penuh Kejutan (1)

September 8, 2016. Posted in Article

Sebagai koordinator Tim Post-Release Monitoring (PRM) RHOI, saya bertanggung jawab melakukan persiapan untuk kegiatan pelepasliaran orangutan berikutnya di Kalimantan Timur. Saya diberi tugas untuk menyiapkan pemantauan dan menilai kandidat orangutan release di Samboja Lestari sekaligus menentukan titik pelepasliaran di Hutan Kehje Sewen. Karena tugas lain yang masih menumpuk di kantor, saya hanya punya satu minggu untuk mempersiapkannya!

Saya cukup beruntung bekerjasama dengan tiga orang hebat yang sangat peduli akan konservasi orangutan. Mereka adalah ahli primata dan pakar orangutan terkemuka Indonesia, Dr. Sri Suci Utami Atmoko, yang juga merupakan dosen saya di Universitas Nasional, Jakarta; Asisten Manager Animal Welfare di Samboja Lestari, Christian Nicholas Pranoto; dan Misdi, peneliti orangutan yang pernah menjadi koordinator di Kamp Tuanan, Program Konservasi Mawas, Kalimantan Tengah tahun 2014-2015 lalu.

From left to right: Dr. Sri Suci, Misdi, Saya sendiri, dan Christian

Persiapan dimulai di Program Reintroduksi BOS Foundation Samboja Lestari dengan diskusi kelompok untuk memilih dan menetapkan individu untuk dirilis. Ada beberapa syarat sebelum orangutan rehabilitasi dapat dilepasliarkan. Kandidat rilis harus sehat, pernah melewati “pelatihan” di sekolah hutan atau di pulau pra-pelepasliaran, menunjukkan perilaku mandiri dan secara konsisten tidak suka dengan keberadaan manusia (dengan mengeluarkan suara kiss-squeak), dan berusia cukup. Kami menemukan lima orangutan yang memenuhi persyaratan, namun nama dan jumlah mereka bisa berubah sewaktu-waktu.

Setelah menentukan kandidat orangutan rilis, kami beralih ke tugas berikutnya, yaitu menentukan titik rilis di selatan Kehje Sewen. Ada dua lokasi yang menurut kami layak untuk disurvei, satu di eks-Kamp Mugi Triman dan satu lagi di sekitar transek fenologi.

Pada hari pertama, kami mengamati eks-Kamp Mugi Triman (Mugi Triman adalah nama perusahaan kayu yang dulu beroperasi di wilayah tersebut). Lokasi ini berjarak sekitar tiga kilometer dari Kamp Nles Mamse dan merupakan titik pelepasliaran pada Mei 2016 lalu. Tim PRM kami melaporkan, bahwa orangutan yang dilepasliarkan saat itu kini sudah menjelajah jauh, dengan demikian, lokasi ini kami anggap kawasan yang baik untuk pelepasliaran orangutan berikutnya. Namun, dalam perjalanan, kami menemukan jembatan untuk menunju ke sana runtuh. Kami memutuskan bahwa rute ini terlalu berisiko, mengingat tim rilis harus mengangkat kandang transportasi, yang beratnya bisa mencapai lebih dari 100 kilogram.

Jalan setapak sepanjang 15-20 meter, dengan tebing berbahaya berketinggian 8-10 meter di kanan-kirinya

Pada hari berikutnya, kami memeriksa pilihan berikutnya, daerah sekitar transek fenologi, sekitar 4 kilometer dari Kamp Nles Masme. Tim PRM kami telah mensurvei area ini pada tahun 2015, dan jalur ini dapat diakses mobil, hanya butuh sedikit pembersihan jalan saja. Kami anggap lokasi ini pilihan terbaik untuk pelepasliaran orangutan mendatang.

Transek Fenologi

Pantau terus laman RHOI untuk tahu kelanjutan petualangan seru saya di Hutan Kehje Sewen!

Teks oleh: Rika Safira, Koordinator PRM RHOI di Kantor Pusat

Dalam rangka merayakan ulang tahun BOS Foundation ke-25 di tahun ini, kami berharap orangutan akan terus hidup dengan aman di habitat alami mereka yang baru. Kami akan melakukan yang terbaik untuk terus memantau perkembangan mereka dan berharap untuk mendapatkan laporan terbaru yang menarik terkait adaptasi mereka di tahun ini! Kamu bisa mendukung tim kami dan kegiatan pemantauannya. DONASI SEKARANG ke BOS Foundation dan membuat perubahan bagi kelangsungan hidup masa depan orangutan!