Archives: Mei 2016

[SIARAN PERS] Yayasan BOS Kembali Lepasliarkan 5 Orangutan di Kalimantan Timur

Mei 27, 2016. Posted in Article

Memasuki usia yang ke-25 sekaligus memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh setiap tanggal 5 Juni, Yayasan BOS akan kembali melepasliarkan 5 orangutan dari Samboja Lestari ke Hutan Kehje Sewen.

Samboja, Kalimantan Timur, 27 Mei 2016. Yayasan BOS bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur akan kembali mempersiapkan pelepasliaran 5 orangutan dari Program Reintroduksi Orangutan Kalimantan Timur di Samboja Lestari ke Hutan Kehje Sewen, Kabupaten Kutai Timur dan Kutai Kertanegara.

Dengan pelepasliaran ini, maka jumlah total orangutan yang telah dilepasliarkan di Hutan Kehje Sewen akan mencapai 45 orangutan (di mana sejak 2012 sampai dengan 2015 telah melepasliarkan 40).

Ketiga orangutan jantan dan dua orangutan betina ini akan menempuh perjalanan darat dari Samboja Lestari menuju ke Muara Wahau, Ibukota Kecamatan di Kabupaten Kutai Timur. Perjalanan darat ini membutuhkan waktu sekitar 12 jam dan setiap 2 jam rombongan akan berhenti untuk memeriksa kondisi orangutan. Dari Muara Wahau, perjalanan akan dilanjutkan selama sekitar 5 jam sampai akhirnya sampai ke titik yang kami sebut “jalan buntu”. Titik ini, berjarak sekitar 200 meter dari Sungai Telen dan terletak di tepian Hutan Kehje Sewen, merupakan titik terakhir yang bisa dilalui kendaraan. Dari situ, kandang transport akan diangkat dan dibawa dengan perahu ces menyeberang sungai. Lalu kandang transport kelima orangutan kandidat pelepasliaran ini akan dibawa oleh kendaraan berpenggerak 4 roda sampai ke titik pelepasliaran di Hutan Kehje Sewen.

Drh. Agus Irwanto, Manajer Program Samboja Lestari mengatakan, “Kami di Samboja Lestari senang sekali bisa kembali melepasliarkan orangutan rehabilitasi. Kelima orangutan ini yang kami beri nama Angely, Gadis, Kenji, Hope, dan Raymond akan menikmati kehidupan di alam bebas, di Hutan Kehje Sewen. Kelimanya telah menjalani masa rehabilitasi cukup lama, bahkan ada yang mencapai 9 tahun lamanya. Mereka kini sudah siap hidup di alam liar, dan kami semua berharap mereka bisa membentuk populasi liar di sana, menyusul 40 orangutan lain yang telah lebih dulu dilepasliarkan.”

Kehje Sewen merupakan hutan hujan seluas 86.450 hektar di Kalimantan Timur yang dikelola dalam skema Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Restorasi Ekosistem (IUPHHK-RE) oleh PT RHOI (Restorasi Habitat Orangutan Indonesia). Yayasan BOS memperoleh izin pemanfaatan hutan ini di tahun 2010, khusus untuk pelepasliaran orangutan rehabilitasi.

Dr. Aldrianto Priadjati selaku Direktur Konservasi RHOI menyambut baik hal ini sembari mengatakan, “Tugas kami adalah untuk memastikan orangutan-orangutan yang direhabilitasi telah siap untuk dilepasliarkan, dan setelah pelepasliaran mereka dapat beradaptasi dan bertahan hidup di lingkungan barunya. Untuk itu kami melaksanakan pemantauan pasca pelepasliaran yang dilakukan setiap harinya di hutan, oleh karyawan kami yang sangat berdedikasi terhadap pelestarian orangutan dan habitatnya. Kami saat ini juga masih mengupayakan lebih banyak areal pelepasliaran orangutan dengan memperluas areal hutan Kehje Sewen serta dengan menggunakan skema IUPHHK-RE, baik di Kalimantan Timur maupun di Kalimantan Tengah. Kami mengharapkan dukungan maksimal dari seluruh pihak untuk mewujudkan hal ini, karena banyak orangutan yang saat ini ada di pusat rehabilitasi kami perlu untuk segera dilepasliarkan.”

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur, Ir. Sunandar Trigunajasa N., mengatakan, “Upaya pelepasliaran orangutan oleh Yayasan BOS ini merupakan hal yang baik sekali, karena konservasi satwa dan habitat ini merupakan tanggung jawab kita semua. Orangutan dan hutan merupakan milik kita semua dan keberadaannya dilindungi oleh undang-undang, sehingga kita wajib mengedepankan pemikiran ini mengembangkan lahan di provinsi kita. Mari kita tingkatkan upaya bersama untuk mendukung pelestarian lingkungan alam kita yang kaya.”

Dr. Ir. Jamartin Sihite, CEO Yayasan BOS mengatakan, “Tahun lalu program rehabilitasi kami mendapatkan ancaman yang tidak bisa dipandang remeh. Sebanyak lebih dari 150 hektar lahan kami di Samboja Lestari habis dilalap api. Dengan besarnya jumlah orangutan yang saat ini kami rehabilitasi, yaitu 200 individu, tidak ada tempat di Kalimantan Timur yang sanggup menampung evakuasi seluruh orangutan kami seandainya hal itu kembali terjadi. Kami butuh peran serta seluruh pihak untuk memastikan hal ini tidak terulang. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur dan aparat yang berwenang bersama beberapa lembaga lain telah banyak membantu sejauh ini, namun kita butuh penegakan hukum yang lebih tegas demi kelangsungan perlindungan orangutan dan habitatnya di Kalimantan Timur.”

Pelepasliaran kali ini terlaksana berkat kerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, Pemerintah Kabupaten Kutai Timur dan Kutai Kartanegara, serta masyarakat Kutai Timur dan Kutai Kartanegara. Yayasan BOS juga berterima kasih atas dukungan moral dan material dari BOS Swiss, PT Total E&P, PT Pupuk Kaltim, donor perorangan, para mitra lainnya, dan organisasi konservasi di seluruh dunia yang peduli atas usaha pelestarian orangutan di Indonesia.

Kontak:

Paulina Laurensia

Spesialis Komunikasi

Email: pauline@orangutan.or.id

Suwardi

Staf Komunikasi Samboja Lestari

Email: ardy@orangutan.or.id

************************************

Catatan Editor:

Tentang Yayasan BOS

Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo (Yayasan BOS) adalah organisasi nirlaba Indonesia yang berdedikasi terhadap konservasi orangutan Borneo dan habitatnya, bekerjasama dengan masyarakat, Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, serta organisasi-organisasi mitra di seluruh dunia.

Didirikan sejak tahun 1991, Yayasan BOS saat ini merawat lebih dari 700 orangutan dengan dukungan 420 karyawan yang berdedikasi tinggi, serta juga para ahli di bidang primata, keanekaragaman hayati, ekologi, rehabilitasi hutan, agroforestri, pemberdayaan masyarakat, komunikasi, edukasi, dan kesehatan orangutan. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi www.orangutan.or.id.

 

Tentang RHOI

PT Restorasi Habitat Orangutan Indonesia (RHOI) adalah perusahaan yang didirikan oleh Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo (Yayasan BOS) pada tanggal 21 April 2009, untuk sebuah tujuan spesifik, yaitu untuk mendapatkan Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu untuk Restorasi Ekosistem (IUPHHK-RE) bagi pelepasliaran orangutan.

Sebagai sebuah LSM, Yayasan BOS tidak bisa secara legal mendapatkan izin ini. Karena itulah Yayasan BOS membentuk sebuah perusahaan, yaitu RHOI, sebagai sarana untuk mendapatkan izin tersebut. IUPHHK-RE memberikan RHOI otoritas dalam penggunaan dan pengelolaan sebuah area konsesi—dalam hal ini hutan—yang sangat dibutuhkan untuk melepasliarkan orangutan.

Pada 18 Agustus 2010, RHOI berhasil mendapatkan IUPHHK-RE dari Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, atas lahan hutan seluas 86,450 hektar di Kabupaten Kutai Timur dan di Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur. Lahan konsesi ini menyediakan habitat yang layak, terlindungi dan berkelanjutan bagi para orangutan, selama 60 tahun, dengan opsi perpanjangan selama 35 tahun lagi. Dana untuk membayar izin tersebut, sebesar sekitar 1,4 juta dolar Amerika, didapatkan dari para donor Yayasan BOS yang berasal dari Eropa dan Australia.

RHOI menamakan lahan konsesi ini Hutan Kehje Sewen, mengadopsi bahasa lokal Dayak Wehea di mana ‘kehje sewen’ berarti orangutan. Jadi Kehje Sewen adalah hutan bagi para orangutan. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi website www.theforestforever.com.

PROFIL KANDIDAT PELEPASLIARAN ORANGUTAN KE-8 SAMBOJA LESTARI

Mei 26, 2016. Posted in Article

Untuk memperingati ulang tahun yang ke-25 sekaligus merayakan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh setiap tanggal 5 Juni, BOS Foundation akan memberangkatkan lima orangutan dari Program Reintroduksi Orangutan Kalimantan Timur di Samboja Lestari menuju titik-titik pelepasliaran yang telah ditentukan sebelumnya di Hutan Kehje Sewen. Inilah profil mereka.

Angely

Angely adalah orangutan betina yang diselamatkan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Seksi Wilayah II di Tenggarong dari seorang warga di Kecamatan Kaliorang Kutai Timur yang menjadikannya hewan peliharaan. Ia tiba di Samboja Lestari pada 18 Juni 2010 saat usianya 1 tahun. Ketika pertama kali tiba di Samboja Lestari, Angely sangat ketakutan dan trauma, bahkan ia tidak mau digendong maupun dipegang oleh teknisi.

Seiring berjalannya waktu, Angely tumbuh menjadi orangutan betina yang cerdas dan mandiri. Di Sekolah Hutan Level 2 ia menghabiskan hari-harinya dengan penuh semangat menjelajah hutan dan aktif bergerak di atas pohon.

Angely yang memiliki rambut tipis berwarna coklat kehitaman dan senang menyendiri ini kini berusia 7 tahun dengan berat badan 23 kg. Selama hampir enam tahun tinggal di Samboja Lestari, Angely telah banyak mempelajari keterampilan bertahan hidup di hutan. Ia pun siap menyongsong kebebasannya di Hutan Kehje Sewen, Kalimantan Timur.

Kenji

Kenji merupakan orangutan jantan yang diselamatkan oleh Balai Konservasi Sumber Sumber Daya Alam (BKSDA) Seksi Wilayah II di Tenggarong dari seorang warga di Tenggarong yang mengatakan bahwa ia telah menemukan Kenji di dekat sebuah perkebunan kelapa sawit di Desa Wanasari. Kenji ditemukan dalam kondisi yang buruk dengan luka di pinggulnya yang diduga disebabkan oleh tusukan parang. Kenji yang saat tiba berusia 1 tahun, tampak sangat tertekan dan trauma, sehingga ia menolak untuk dipegang saat tim medis melakukan tindakan pengobatan.

Kenji mengawali proses rehabilitasi di Samboja Lestari dengan belajar di Sekolah Hutan grup bayi pada 17 Oktober 2010. Enam tahun sudah Kenji belajar di Sekolah Hutan Level 2 dan tumbuh sebagai orangutan yang cerdas dan pintar mengidentifikasi pakan alami di hutan. Setiap malam, Kenji yang mudah dikenali karena ia memiliki rambut yang tipis dengan warna coklat kehitaman ini lebih senang tidur di Hutan daripada di kandang inap.

Setelah mempelajari semua hal tentang bertahan hidup di alam di Pusat Rehabilitasi Orangutan Samboja Lestari, Kenji tidak lama lagi akan segera berangkat ke Hutan Kehje Sewen untuk menjalani hidup barunya sebagai orangutan liar sejati.

Hope

Hope merupakan orangutan jantan yang diselamatkan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur dari seorang warga di Balikpapan pada 17 Oktober 2010. Hope datang ke Samboja Lestari dengan kondisi yang kritis; tidak bisa duduk dan makan. Saat Hope tiba, Pusat Rehabilitasi Samboja Lestari sangat penuh, namun Hope yang saat itu masih berusia satu tahun membutuhkan perawatan segera, sehingga kami segera menyiapkan tempat dan tim medis untuk memberikan perawatan intensif kepadanya. Dua bulan lamanya Hope mendapatkan perawatan intensif dari tim yang sangat berdedikasi, ia pun berangsur pulih dan dapat menjalani proses rehabilitasi di Sekolah Hutan.

Hope dan teman-temannya belajar dan bermain bersama di Sekolah Hutan setiap harinya dan perkembangannya semakin mengesankan. Hope tumbuh menjadi orangutan jantan yang mandiri dan sangat baik dalam mencari pakan alami di hutan maupun membuat sarang.

Hope kini berusia enam tahun dengan berat badan 27 kilogram, dan memiliki postur tubuh yang berisi. Ia akan segera kembali ke habitat alaminya di Hutan Kehje Sewen di Kalimantan Timur.

Gadis

Gadis merupakan orangutan betina yang diserahkan oleh PT. Gunung Bayan Prima Coal, Kutai Barat kepada BOS Foundation di Samboja Lestari pada 20 Februari 2014. Ia datang dalam keadaan tidak sadarkan diri akibat menderita tipus, dan tim medis kami segera memberikan perawatan intensif di klinik Samboja Lestari. Gadis yang saat itu usianya masih 5 tahun dengan berat badan 23 kg berangsur sehat dan mulai menjalani proses rehabilitasi di Samboja Lestari.

Selama menjalani proses rehabilitasi di Sekolah Hutan, setiap hari perkembangannya sangat mengagumkan. Gadis yang mempunyai rambut coklat kehitaman ini sangat popular di kalangan orangutan jantan di Sekolah Hutan Level 2, namun ia lebih suka menyendiri. Gadis dapat dengan mudah mengidentifikasi pakan alami di hutan, lebih sering beraktifitas di pohon, dan memiliki kemampuan membuat sarang yang sangat baik.

Gadis yang berparas cantik ini kini berusia 7 tahun dengan berat badan 33 kilogram, dan siap untuk memulai perjalanan menuju kehidupan baru sebagai orangutan liar di Hutan Kehje Sewen.

Raymond

Raymond tiba di Samboja Lestari pada 27 April 2007 setelah diselamatkan oleh BKSDA Kalimantan Timur dari seorang warga di Bontang, Kalimantan Timur. Saat itu ia masih berusia delapan bulan dengan berat badan 3,6 kg, dan mengalami trauma. Secara naluriah ia menghindari kontak dengan manusia. Setelah melewati masa karantina, Raymond bergabung dengan orangutan bayi lainnya di Sekolah Hutan Nursery Group. Seiring berjalannya waktu, Raymond pun tumbuh menjadi orangutan jantan yang mengagumkan dan naik tingkat sampai ke Sekolah Hutan Level 2.

Raymond memiliki rambut tipis berwarna coklat kehitaman dan mudah dikenali karena memiliki dahi lebar dan mata kecil. Ia dominan dan sangat agresif setiap bertemu seseorang yang tidak dikenalinya. Di Sekolah Hutan, Raymond lebih sering beraktivitas di atas pohon dan dikenal sebagai penjelajah yang handal, serta pandai menemukan pakan alami di hutan.

Raymond kini berusia 9 tahun dengan berat badan 29 kg. Dengan semua keterampilan yang sudah dipelajari di Pusat Rehabilitasi Samboja Lestari, ia telah siap untuk mengawali fase baru sebagai orangutan liar di Hutan Kehje Sewen.

Satwa Nokturnal di Hutan Kehje Sewen

Mei 24, 2016. Posted in Article

Ketika orangutan sudah mulai membangun sarangnya untuk tidur malamnya, satwa-satwa ini justru akan memulai harinya untuk memulai kehidupan. Satwa-satwa ini adalah makhluk nokturnal yang seringkali ditemui Tim PRM kami usai menyelesaikan tugas pemantauan nest-to-nest terhadap orangutan di Hutan Kehje Sewen.

Baru-baru ini, tim PRM kami di Hutan Kehje Sewen bertemu dengan salah satu mamalia yang statusnya terancam punah (Critically Endangered) oleh IUCN. Satwa itu adalah trenggiling (Manis javanica). Mamalia yang seluruh tubuhnya ditutupi sisik mulai dari kepala hingga ekor ini dijumpai di dekat Camp Nles Mamse. Hewan yang kepala dan ekornya berbentuk panjang dan tipis ini akan melilit tubuhnya jika terganggu. Sayangnya di beberapa kawasan di Indonesia, trenggiling menjadi buruan dan ditangkap karena dipercaya mempunyai manfaat medis. Tapi, di Hutan Kehje Sewen kami membiarkan dia hidup berkembang biak dengan damai.

Trenggiling (Manis javanica)

Trenggiling (Manis javanica)

Sementara itu ada juga satwa nokturnal lain yang hidup dengan bebas di Hutan Kehje Sewen. Ia adalah Musang Galing (Paguma larvata). Hewan mamalia ini hidup di pohon dan tanah. Musang Galing mudah dikenali, karena mempunyai ciri-ciri wajah pucat, tubuh kemerahan, ujung ekor berwarna putih, dan leher, telinga, dan sebagaian ekornya berwarna coklat gelap.

Musang Galing (Paguma larvata)

Musang Galing (Paguma larvata)

Tenggalung Malaya (Viverra tangalunga) juga termasuk satwa nokturnal yang beberapa kali ditemui oleh tim kami di Kehje Sewen. Tenggalung malaya biasa ditemukan di dataran rendah primer dan sekunder juga pegunungan. Tenggalung malaya mempunyai bulu berwarna keabu-abuan dengan banyak bintik-bintik hitam dan ada garis hitam di tengah badannya sampai ke ujung ekor. Hewan ini hidup di tanah (Terestrial) dan merupakan satwa pemakan invertebrata dan vertebrata kecil.

Tenggalung Malaya (Viverra tangalunga)

Tenggalung Malaya (Viverra tangalunga)

Ada juga Kukang Bukang (Nycticebus coucang) yang dengan bebas hidup di Hutan Kehje Sewen. Hewan kecil dengan ekor yang sangat pendek ini mempunyai pola warna bervariasi (abu-abu coklat pucat) dan ada lingkaran hitam di sekitar mata. Kukang bukang bergerak dengan perlahan-lahan, tapi cukup cepat untuk menangkap serangga. Selain serangga, buah juga menjadi menu santapan mereka sehari-sehari. Hewan ini banyak beraktivitas di atas pohon.

Kukang bukang (Nycticebus coucang)

Kukang bukang (Nycticebus coucang)

Namun sayang, di Indonesia hewan-hewan ini acap kali diburu lalu dijadikan hewan peliharaan maupun untuk dikonsumsi. Seharusnya kita bisa lebih bijaksana dan juga menyadari bahwa mereka sesugguhnya memiliki kehidupan di alamnya sendiri, di mana mereka akan lebih aman dan terjamin kelangsungan hidupnya. Suka atau mencintai seharusnya dengan membiarkan mereka hidup bebas berkembang biak di habitat alaminya, bukan memeliharanya.

Teks oleh: Tim PRM di Kehje Sewen

Dalam rangka merayakan ulang tahun BOS Foundation ke-25 di tahun ini, kami berharap orangutan akan terus hidup dengan aman di habitat alami mereka yang baru. Kami akan melakukan yang terbaik untuk terus memantau perkembangan mereka dan berharap untuk mendapatkan laporan terbaru yang menarik terkait adaptasi mereka di tahun ini! Kamu bisa mendukung tim kami dan kegiatan pemantauannya. DONASI SEKARANG ke BOS Foundation dan membuat perubahan bagi kelangsungan hidup masa depan orangutan!

Ajeng Pencari Makan yang Handal

Mei 10, 2016. Posted in Article

Baru-baru ini, Tim PRM kami di Camp Nles Mamse mengamati Ajeng selama beberapa hari, dan merasa senang menyaksikan kemajuan sejak pelepasliarannya di Hutan Kehje Sewen.

Tim mencatat bahwa Ajeng menghabiskan sebagian besar waktunya sendirian mencari makan. Pada beberapa kesempatan ia sempat terlihat bersama Hanung, tapi itu tidak berlangsung lama karena ia lebih memilih untuk menyendiri. Selama pengamatan, Ajeng tampak sehat dan memiliki nafsu makan yang baik, hal ini bisa dilihat dari jumlah waktu yang dihabiskan setiap harinya. Tim melihat ia banyak makan buah, daun muda, umbut, dan rayap, yang berlimpah di hutan. Ajeng akan berada di puncak pohon yang tinggi untuk buah-buahan dan hanya turun ke tanah ketika memakan umbut dan rayap.

Ajeng by rusda (3)

Pada saat pengamatan, Ajeng terlihat menghampiri ke sekumpulan umbut rotan yang merambat di dahan pohon. Dia dengan cepat mengambil sambil bergelantungan di dahan pohon, dan mengupas kulit umbut yang berduri menggunakan giginya untuk mengambil bagian dalamnya yang untuk dimakan. Setelah menyiapkan makanannya, Ajeng kemudian pindah ke posisi yang lebih nyaman untuk makan tanpa gangguan.

Ajeng menikmati umbut rotan yang panjangnya bisa mencapai kurang lebih satu meter

Ajeng menikmati umbut rotan yang panjangnya bisa mencapai kurang lebih satu meter

Umbut kecombrang (Etlingera sp.) juga tampaknya menjadi salah satu makanan hutan favorit Ajeng. Ketika ia menemukan sekumpulan tumbuhan kecombrang di lantai hutan, ia pun perlahan melahapnya. Umbut kecombrang lebih kecil dari umbut rotan dan menghasilkan bunga yang orangutan juga suka makan.

Ajeng Makan Umbut Kecombrang

Ajeng makan umbut kecombrang

Rayap merupakan salah satu sumber protein untuk orangutan di habitat alaminya, dan Ajeng juga sangat menyukai rayap. Rayap trampil membangun sarang yang solid di lantai hutan, dan mereka memberikan sedikit tantangan untuk orangutan pintar sepeti Ajeng, yang menggunakan cabang dan batang pohon yang untuk memecahkannya sehingga rayap dapat dinikmati.

Ajeng makan rayap

Ajeng makan rayap

Sebagai orangutan liar, Ajeng tidak suka diikuti. Sesekali  ketika kami sedang mengobservasinya, Ajeng pun menunjukkan ketidaksukannya dengan mengeluarkan suara kiss-squeak dan melempar-lemparkan ranting kepada kami. Ajeng telah membuktikan dia telah beradaptasi dengan baik di rumah barunya.

Teks oleh: Tim PRM di Camp Nles Mamse, Hutan Kehje Sewen

Dalam rangka merayakan ulang tahun BOS Foundation ke-25 di tahun ini, kami berharap orangutan akan terus hidup dengan aman di habitat alami mereka yang baru. Kami akan melakukan yang terbaik untuk terus memantau perkembangan mereka dan berharap untuk mendapatkan laporan terbaru yang menarik terkait adaptasi mereka di tahun ini! Kamu bisa mendukung tim kami dan kegiatan pemantauannya. DONASI SEKARANG ke BOS Foundation dan membuat perubahan bagi kelangsungan hidup masa depan orangutan!

Bungan Beradaptasi dengan Baik di Hutan Kehje Sewen

Mei 3, 2016. Posted in Article

Tim PRM kami di Camp Nles Mamse baru-baru ini melakukan observasi nest-to-nest terhadap Bungan. Pengamatan nest-to-nest adalah pengamatan orangutan dari saat mereka bangun tidur di sarang mereka, sampai mereka membangun sarang baru untuk malam hari. Tidak butuh waktu lama bagi tim kami untuk melihat bahwa Bungan beradapatasi dengan baik di Hutan Kehje Sewen.

Hari itu cuaca sangat tidak menentu dan teriknya matahari di siang hari amat sangat membuat kami seperti terbakar. Bungan saat itu sedang berayun di ujung dahan pohon di pinggir sungai dan ia pun memasukkan ke tangannya ke dalam sungai dan kemudian membasuhkan ke mukanya.

Setelah itu ia pun kembali melakukan aktivitasnya menjelajah Hutan Kehje Sewen untuk mendapatkan pakan alami.

Bungan makan umbut Etlingera

Setelah selesai makan, Bungan pun beristirahat cialis best on empty stomach sejenak di atas pohon. Di sini lagi-lagi kami menemukan kejadian menarik. Bungan seringkali mematahkan ranting-ranting pohon kecil yang dia gunakan untuk membersihkan kotoran di hidungnya. Kemudian ia pun mematahakan satu ranting lagi dan kemudian ia gunakan untuk membersihkan kotoran di telinganya.

Dalam hal kebutuhan hidup, orangutan merupakan kera besar yang cerdas yang dapat menggunakan alat untuk berbagai hal seperti membuat sarang, mendapatkan rayap dari sela-sela pohon, dan lain sebagainya. Itu tampak jelas pada Bungan!

Melihat Bungan yang begitu cermat menggunakan ranting untuk membersihkan kotoran di hidung dan telinganya, membuat kami yang kala itu sedang melakukan patroli terpukau. Ia dengan sangat cepat tumbuh dan belajar terhadap lingkungan sekitarnya.

Kami sangat senang melihat Bungan, orangutan betina yang dilepasliarkan pada Desember 2015 lalu begitu sehat, aktif, dan telah beradaptasi dengan baik di rumah sejatinya di Hutan Kehje Sewen.

Teks oleh: Tim PRM di Camp Nles Mamse, Hutan Kehje Sewen

Dalam rangka merayakan ulang tahun BOS Foundation best herbal viagra review ke-25 di tahun ini, kami berharap orangutan akan terus hidup dengan aman di habitat alami mereka yang baru. Kami akan melakukan yang terbaik untuk terus memantau perkembangan mereka dan berharap untuk mendapatkan laporan terbaru yang menarik terkait adaptasi mereka di tahun ini! Kamu bisa mendukung tim kami dan kegiatan pemantauannya. DONASI SEKARANG ke BOS Foundation dan membuat perubahan bagi kelangsungan hidup masa depan orangutan!