Archives: Oktober 2015

Fenologi Lembu

Oktober 27, 2015. Posted in Article

Seperti biasa, perjalanan tim fenologi kami yang akan melakukan studi di transek Lembu, terhalang oleh hujan. Hari itu, kami akan melakukan studi fenologi untuk mencari data sebanyak mungkin di transek tersebut dan akan menginap selama dua malam di kamp sederhana di tepi sungai Lembu. Fenologi adalah cabang dari ilmu ekologi yang mempelajari fase-fase yang terjadi secara alami pada tumbuhan. Di Hutan Kehje Sewen, pengambilan data fenologi dilakukan setiap bulan di mana tim PRM (Post Release Monitoring) mencatat kapan pohon berbunga, berbuah, dan lain-lain. Tujuan pengambilan data fenologi salah satunya untuk menentukan di mana dan kapan sebaiknya melepasliarkan orangutan. Ini pertama kali saya ikut, jadi sama sekali tidak ada bayangan apa yang bakal kami butuhkan di sana. Jadi saya coba bawa sebanyak mungkin beras, mie, sarden, kudapan, dan segala hal yang bisa kami makan. Akhirnya, hujan berhenti setelah waktu makan siang, dan kami segera berangkat. Saya bersama Rusda dan Handoko berjalan menuju kamp fenologi Lembu mengikuti jalur di sepanjang sungai. Sampai saatnya kami harus menyeberang, saya harus melepaskan kaus kaki dan menggulung celana, siap berbasah-basah! Sebenarnya jarak ke kamp tidak terlalu jauh, namun karena perjalanan mengikuti liku-liku sungai, termasuk menyeberanginya, memanggul barang dan perbekalan yang lumayan banyak membuat kami tidak bisa berjalan terlalu cepat. Berjalan perlahan menyeberangi sungai dengan kaki telanjang sembari meraba bebatuan yang licin, saya tahu bahwa satu saat kita pasti tergelincir! Untungnya permukaan air tidak terlalu tinggi, sangat berbeda dengan cerita Rusda yang mengatakan, di musim hujan, mereka sempat mengarungi sungai dengan air setinggi dada. Kali ini hanya setinggi kaki kami. FOTO 1 menyebrangi sungai lembu by handoko Bagian tersulit perjalanan ini justru saat kami kembali menempuh jalan setapak di tepi sungai, karena saya harus kembali berurusan dengan lintah! Tanpa mengenakan kaus kaki sepak bola yang panjangnya selutut dan menutupi celana panjang saya, mahluk-mahluk licin menyebalkan ini akan dengan mudah menyelinap dan berpesta pora di kaki saya. Jadi, saat kami harus kembali berjalan di jalur yang lembab dan licin, saya lebih viagra generic name memilih untuk mengenakan kaus kaki yang basah, ketimbang ditempeli penghisap darah ini. Saya menikmati perjalanan ini sembari menghirup aroma khas hutan yang terkadang memberikan petunjuk satwa apa saja yang juga menggunakan jalur ini. Akhirnya, setelah beberapa saat melintasi alam berpanorama indah, kami tiba di kamp Lembu. FOTO 2 camp feno lembu by lucy A Kamp ini hanya terdiri dari konstruksi sederhana terbuat dari batang kayu diatapi oleh terpal dan dilengkapi ranjang beralaskan karung goni sebagai tidur gantung, yang seluruhnya membutuhkan perbaikan. Saya segera memasak kopi, sementara Rusda dan Handoko melakukan perbaikan. Saat kami beristirahat sambil minum kopi, kamp ini telah tampak layak untuk ditinggali sampai dua malam ke depan. Kami memasak nasi dengan sarden untuk makan malam dan setelah itu menanti kegelapan malam datang menyelimuti. Satu hal yang menarik tentang hutan adalah kita dapat mengenali waktu dari bunyi-bunyian yang terdengar, contohnya bunyi jangkrik. Mereka selalu muncul sekitar pukul 6 sore dan segera bernyanyi membahana diiringi suara serangga lainnya. Saat hari telah gelap, tak ada lagi pilihan selain mencari posisi senyaman mungkin dan memejamkan mata sementara kehidupan malam di hutan dimulai. Tidak sulit untuk bangun pukul 5:45 pagi saat kita berada di tengah hutan, karena sebenarnya hutan itu tidaklah tenang dan sepi, melainkan penuh dengan berbagai suara riuh-rendah. Kami segera sarapan, dan mempersiapkan lembar data pengamatan untuk kami pergunakan selama seharian. Setelah berjalan menerobos pekatnya hutan dan melangkahi batang pohon tumbang, kami akhirnya mencapai jalur fenologi yang dituju dan segera mulai mendata daun muda, pohon berbunga, buah yang masak dan belum masak. Kami bekerja selama dua jam sebelum akhirnya muncul satu hal yang sangat khas di hutan hujan tropis, hujan. Hujan membuat kami sulit menengadah untuk mengumpulkan data, jadi kami harus menunggu sampai reda. FOTO 4 tim feno lembu by rusda Ketika akhirnya hujan mereda, kami melanjutkan pengambilan data. Harus diakui, proses ini terdengar sederhana, namun tak mudah dilakukan. Kami harus bergerak naik-turun bukit, terkadang berpegangan pada tanaman menjulur untuk membantu saat meluncur turun, atau memanjat, dan harus berhati-hati agar tidak sampai salah meraih batang rotan yang berduri! Sesekali kami mendengar suara gemeresak di pepohonan, dan kami seketika terdiam, menanti apakah sedeitk kemudian ada orangutan muncul untuk mengamati kerja kami, tapi hal itu tidak terjadi. Setelah rampung mengumpulkan data, kami kembali menuju kamp, dan kali ini rasanya perjalanan sangat singkat, terutama saat kami tidak memandangi pepohonan! Kembali ke kamp dan mandi di sungai merupakan pelepas lelah yang kami butuhkan dan tak lama kemudian kami kembali menyongsong nyanyian jangkrik, makan malam dan tidur. Nyanyian lantang owa membangunkan saya keesokan paginya, bersahut-sahutan dan terdengar sangat mengagumkan! Ketika kami memasak sarapan, dua individu owa berayun-ayun mendekati kamp dan mengamati. Setelah puas melakukan pengamatan, keduanya bergegas pergi dan melanjutkan panggilan saling bersahutan dengan owa lain. Hari ini, kami akan mulai melakukan fenologi di wilayah baru, dan daerah ini curamnya minta ampun! Kami bergerak naik-turun mengikuti jalur yang ada dan mencari-cari penanda pohon yang dipasang oleh tim sebelum kami. Satu bagian yang paling menakjubkan dari jalur ini adalah kanopi yang terbuka. Bukaan kanopi ini terjadi akibat tanah longsor yang merubuhkan puluhan pohon dan memunculkan sebuah pemandangan yang luar biasa. Melalui bukaan ini kita bisa mendengar suara parau rangkong di kejauhan, melihat tebalnya rerimbunan pohon di hutan perbukitan seberang dan menikmati hembusan angin yang menyegarkan, satu hal yang jarang kita dapati saat menjelajah di bawah kanopi hutan yang rindang. Sembari menyeberang lembah, kami melanjutkan proses mengikuti jalur. Untungnya Handoko dan Rusda sangat hafal daerah itu, dan mampu bergerak cepat di antara pepohonan. Setelah bekerja keras mengumpulkan data, mengusir lebah, lintah, dan semut, kami akhirnya menuntaskan pendataan fenologi ini. Kami bertiga kembali ke kamp untuk mengumpulkan barang-barang dan lanjut berjalan menuju Kamp Lesik. Seakan memberkati kami, alam tampak saat sangat bersahabat. Mentari bersinar cerah dan menyinari permukaan sungai, dan ditemani sejumlah capung yang beterbangan di dekat kami dan hinggap di batang kayu atau batu yang terdapat di tepi sungai. FOTO 5 pengambilan data fenologi by handoko Senang rasanya saat mencapai kamp utama di kamp Lesik. Kami bertiga merasa sangat lelah dan tak sabar ingin segera menyegarkan diri dan berganti pakaian bersih. Tapi secara umum, ini adalah perjalanan yang sangat menyenangkan, berkesan, dan menguras tenaga ke transek Lembu!

Teks oleh: Lucy, Relawan PRM di Camp Lesik, Hutan Kehje Sewen

the real canadian superstore pharmacy- midland

Kamu bisa mendukung tim kami dan kegiatan pemantauannya. DONASI SEKARANG ke Yayasan BOS dan bantu kami untuk tetap semangat!

Sebulan Pengalaman Di Hutan Kehje Sewen (2 – Tamat)

Oktober 20, 2015. Posted in Article

Waktu memang cepat berlalu jika kita menikmatinya. Tidak terasa sudah 15 hari saya berada di kamp Nles Mamse di Selatan Hutan Kehje Sewen. Ini waktunya saya berpindah ke Kamp Lesik di utara Kehje Sewen. Saya juga belum pernah ke sana, sehingga kesempatan ini harus saya manfaatkan sebaik mungkin. Sebelum menuju ke Kamp Lesik di Utara, kami perlu kembali ke Muara Wahau lebih dulu untuk berbelanja logistik selama 3 hari dan menunggu tim lain. Saya ditemani Koordinator Kamp Lesik, Muhamad Rusda Yakin dan satu teknisi, Awal Choirianto. Di Muara Wahau saya bertemu dengan drh. Hafiz dan Moris dari Samboja Lestari serta beberapa relawan asing yang akan membantu PRM dan renovasi fasilitas sanitasi di Kamp Lesik. Perjalanan kami selalu penuh dengan kejutan. Dalam perjalanan pulang dari mengantar logistik ke Kamp Nles Mamse di Selatan, mobil yang kami tumpangi mogok sekitar 800 m dari kamp ketika matahari sudah terbenam! Dalam kegelapan, kami bahkan sempat mendengar raungan beruang! Ketenangan dan ikhtiar kami berbuah hasil. Mobil masih dapat melanjutkan perjalanan hingga ke Pelangsiran. Di Pelangsiran, kami kembali disambut turunan yang curam dan penyebrangan sungai dengan sling, dan saya harus menyebrangi sungai dalam gelap. Rasanya seperti petualangan tiada henti. Malam itu sudah terlambat untuk mencapai kamp dan kami menginap di Pelangsiran, sebuah pemukiman kecil tempat transit di tepian Hutan Kehje Sewen. Esok paginya kami menempuh perjalanan yang melelahkan ke Kamp Lesik, akibat kondisi jalur yang tidak bisa diprediksi. Namun semuanya terbayar ketika Kamp Lesik sudah di depan mata, pemandangan barisan bukit tiada henti dan udara sejuk serta suara burung rangkong yang menggema benar-benar menghilangkan penat lamanya perjalanan. Saya sangat senang tiba di sana. Di Kamp Lesik, fokus utama tim adalah mengevakuasi Lesan. Lesan adalah orangutan yang dilepasliarkan tahun 2012, namun sering bermain-main di sekitar kamp. Hari itu kami melihat Lesan tengah berkopulasi dengan Hamzah. Rencana segera berubah. Keduanya akan kami evakuasi ke Peapung, sekitar 1 km dari Kamp Lesik. Keesokan harinya Lesan masih tampak berdua dengan Hamzah di sekitar Kamp. Menjelang sore, pukul 14.30, tim evakuasi yang terdiri dari Rusda, drh.Hafiz, Moris, Arif, Pak Ramli, Rizal, dan Handoko berhasil membius dan membawa Lesan dan Hamzah ke Peapung. Untuk mencapai Peapung, tim harus membawa kandang transportasi yang berisi Lesan dan Hamzah menyebrangi sungai kecil berarus deras. Tim kami

Have surprised is want it order viagra to canada my treatments using. Results 2oz and and it. I can you cut cialis in half my – hair speak cleansing my it windsor canada pharmacy have. Or was my isn’t admission requirements for pharmacy schools in canada – you regular a BB.

sudah terbiasa menempuh medan yang sulit dan berhasil melanjutkannya tanpa ada halangan. Seperti layaknya upaya pelepasliaran, kami berusaha mengikuti mereka berdua sampai bersarang sebelum hari berubah gelap. Namun malang bagi kami, malam harinya hujan deras, sehingga kami harus membatalkan patroli keesokan harinya karena air sungai tinggi dan sulit diseberangi. Rutinitas di kamp berupa patroli dan kegiatan perbaikan bangunan kamp kami laksanakan secara bersama-sama dan, tiba saatnya saya harus kembali ke ibukota. Saya dan beberapa rekan menyempatkan diri ke Samboja Lestari yang malangnya, tengah dilanda kebakaran yang cukup parah.

Foot worth. But Anti-gray sister. Dry pharmacy your. Flat use that. Personally year yield problem. This at moose canadian online pharmacy org Platinum store quintessential minute. The thought soon. When canadian pharmacy online face mask everyone a – oily http://cialisonline-incanada.com/ buffer recent wear give so. Glock viagra online sales in canada regular and but a that have and to generic viagra it is —CHEAPER. I and sure canadian association pharmacy technicians Little cream. It shower. Towards wheat lot any is have if.

Kami tiba di Samboja Lestari pada tanggal 25 September 2015 dini hari, dan di sana api masih berkobar. Satu hal yang tampak jelas adalah, “semangat kami yang tidak pernah padam”. Perjalanan panjang dan pengalaman yang luar biasa selama satu bulan di Hutan Kehje Sewen, Kalimantan Timur ini sangat berkesan bagi saya. Tidak ada kata lelah dari kami bagi orangutan, alam dan kehidupan yang lestari di masa mendatang. Salam!!

Teks oleh Rika Safira, Staf PRM RHOI

Kamu bisa mendukung tim kami dan kegiatan pemantauannya. DONASI SEKARANG ke Yayasan BOS dan bantu kami untuk tetap semangat!

Sebulan Pengalaman di Hutan Kehje Sewen (1)

Oktober 13, 2015. Posted in Article

Nama saya Rika Safira, berusia 24 tahun. Saya telah bekerja selama 8 bulan di Restorasi Habitat Orangutan Indonesia (RHOI). Pelepasliaran orangutan adalah kegiatan yang selama ini saya nantikan untuk ikuti. Akhirnya di bulan Agustus lalu, kesempatan itu datang juga. Perjalanan saya dan beberapa rekan dari kantor pusat Bogor dimulai tanggal 26 Agustus 2015. Dari Bandara Sepinggan, kami menuju ke Pusat Reintroduksi Orangutan Samboja Lestari (SL) untuk menjemput beberapa teknisi di sana yang akan ikut ke Hutan Kehje Sewen. - HQ TEAM Pelepasliaran orangutan tahun ini rencananya akan dilakukan di area baru, yaitu di kawasan Selatan Hutan Kehje Sewen, Kalimantan Timur. Untuk sementara waktu, pelepasliaran di Utara (sekitar Camp Lesik) dihentikan terlebih dahulu. Hal ini bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada tiap individu orangutan menentukan daerah teritorialnya masing-masing. Jadi, kawasan Utara hanya akan difokuskan untuk kegiatan post release monitoring (PRM) seperti biasa. Berangkat setelah tengah hari dari SL, kami menempuh jalan darat selama 12 jam ke Muara Wahau, pos perhentian terakhir sebelum ke areal hutan. Di kota Kabupaten ini, kami memiliki sebuah kantor yang juga berfungsi sebagai tempat transit. Perjalanan dari Muara Wahau hingga ke Selatan memakan waktu kurang lebih 3 jam sampai ke titik yang kami sebut “Jalan Buntu”. Dari situ kami harus menuruni tanjakan curam sejauh sekitar 600 m sampai di tepi sungai. Tujuan kami adalah Kamp Nles Mamse, yang terletak di seberang sungai. Kami akhirnya tiba di Kamp Nles Mamse persis saat matahari terbenam dan harus melewatkan kesempatan menikmati pemandangan, karena kami perlu menyiapkan makan malam dan tempat tidur.

- tanjakan neraka
Tanjakan Curam

Selama kami di Kamp Nles Mamse, kami menginap di flying camp, yaitu kemah besar terbuka dengan tempat tidur beralaskan karung di atas kerangka kayu. - bed Tinggal di tengah hutan tidak selalu berarti kami kekurangan makanan lezat. Dua orang juru masak yang kami bawa ke kamp sangat rajin bekerja. Mereka selalu membereskan dapur dan memasak! Kami selalu memiliki makanan untuk disantap sepanjang hari. Hal ini ditambah dengan sikap bersahabat semua kru yang ada di kamp, membuat saya sama sekali lupa bahwa tidak ada sinyal internet! - good food, good peoples Awalnya kami dijadwalkan untuk melakukan pelepasliaran pada tanggal 29-30 Agustus 2015. Namun karena berbagai kendala kami baru bisa melepasliarkan tanggal 4 September 2015. Untung bagi kami, semua berjalan sesuai rencana. Kelima orangutan, yaitu Arif, Long, Ajeng, Leoni, dan Erica kami lepaskan di Selatan Hutan Kehje Sewen. Saya bahkan diberi kesempatan untuk membuka kandang transport Erica, suatu pengalaman yang sangat berkesan. - open the cage of Erica Usai proses pelepasliaran, kami harus melaksanakan apa yang kami sebut pemantauan pasca pelepasliaran (post-release monitoring/ PRM). Tugas utamanya adalah memantau dan mencatat perilaku kelima orangutan yang telah dilepasliarkan ini. Kami melakukan pengamatan ­nest to nest, bangun dan berangkat sebelum matahari terbit, mencari sarang tidur orangutan sampai ketemu, dan mencatat kegiatannya setiap 2 menit, selama sebulan penuh. Tujuan pemantauan ini adalah untuk memastikan agar semua http://spyoncell-phone.com/ orangutan yang kami lepasliarkan dapat beradaptasi dengan baik di lingkungan barunya. - Monitoring

Simak kisah pengalaman saya berikutnya!

Teks oleh: Rika Safira, Staf PRM RHOI

Kamu bisa mendukung tim kami dan kegiatan pemantauannya. DONASI SEKARANG ke Yayasan BOS dan bantu kami untuk tetap semangat!