Archives: Agustus 2015

Siaran Pers – Yayasan BOS di Samboja Lestari akan Kembali Melepasliarkan Orangutan

Agustus 28, 2015. Posted in Article

Memperingati Hari Kemerdekaan RI ke-70 dan Hari Internasional Orangutan yang jatuh di bulan Agustus ini, Yayasan BOS melalui Program Reintroduksi Orangutan Kalimantan Timur di Samboja Lestari akan kembali melepasliarkan lima orangutan Kalimantan Timur setelah lebih dari setahun lalu melepasliarkan sepuluh orangutan ke habitat aslinya.

DSC_0300

Samboja, Kalimantan Timur, 3 September 2015. Memperingati Hari Kemerdekaan RI ke-70 dan Hari Internasional Orangutan yang jatuh di bulan Agustus yang lalu, lima orangutan yang terdiri dari satu jantan dan empat betina hari ini memulai perjalanan kembali ke habitat alaminya.  Mereka akan dibawa melalui jalan darat selama dua hari dari Program Reintroduksi Orangutan, Samboja Lestari, Kalimantan Timur, Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo (Yayasan BOS) ke area pelepasliaran di Hutan Kehje Sewen di Kabupaten Kutai Timur dan Kutai Kartanegara.

Hutan Kehje Sewen dikelola oleh PT Restorasi Habitat Orangutan Indonesia (RHOI), yang didirikan oleh Yayasan BOS untuk mendapatkan Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Restorasi Ekosistem (IUPHHK-RE) dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebagai areal pelepasliaran orangutan. Sejak tahun 2012 hingga kini, Yayasan BOS di Samboja Lestari telah melepasliarkan 31 orangutan ke habitat alami mereka di Hutan Kehje Sewen. Jumlah tersebut kini bertambah dengan dilepasliarkannya lima individu kali ini, menjadikan total sebanyak 36 orangutan yang telah kembali ke hutan.

Yang menarik adalah, salah satu kandidat pelepasliaran, yaitu Long, merupakan orangutan betina yang berasal dari area sekitar Hutan Kehje Sewen. Dia diserahkan ke Yayasan BOS pada tahun 2007 oleh seorang warga Nehas Leah Bing yang menemukannya di Hutan Adat Wehea yang berlokasi tidak jauh dari Hutan Kehje Sewen. Kini Long berusia 9 tahun, dan dia siap untuk “pulang kampung” ke area tempat dia berasal. Hanya kini, dia akan ditempatkan di hutan yang lebih aman dan lebih layak untuk menjamin kelangsungan hidupnya.

Pelepasliaran kali ini melibatkan kolaborasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, Pemerintah Kabupaten Kutai Timur dan Kutai Kartanegara, serta masyarakat Kutai Timur dan Kutai Kartanegara . Selain itu, Yayasan BOS juga berterima kasih atas dukungan moral dan material dari organisasi mitra Yayasan BOS, yaitu BOS Switzerland, serta juga sektor swasta, yakni Bank Central Asia (BCA), serta dari donor perseorangan, para mitra lainnya, dan organisasi konservasi di seluruh dunia yang peduli atas usaha pelestarian orangutan di Indonesia.

Drh. Agus Irwanto, Manajer Program Samboja Lestari mengatakan, “Kami masih memiliki kewajiban untuk melepasliarkan lebih dari 150 orangutan rehabilitan yang sehat dan memenuhi syarat untuk hidup liar di habitat alaminya. Selain itu, kami juga berupaya untuk dapat memberikan kehidupan yang lebih baik kepada orangutan yang tidak bisa dilepasliarkan. Dukungan dari semua pihak sangatlah kami harapkan agar satwa kebanggaan kita bersama tidak punah.”

Dr. Aldrianto Priadjati selaku Direktur Konservasi RHOI menambahkan, “Kegiatan pelepasliaran ini merupakan bagian dari proses yang panjang. Tantangan ke depan adalah memastikan bahwa orangutan tersebut bisa hidup dan berkembang biak di di hutan Kehje Sewen. Kami juga berharap agar upaya mendapatkan areal pelepasliaran orangutan dalam skema IUPHHK-RE, baik di Kalimantan Timur maupun di Kalimantan Tengah mendapatkan dukungan dari semua pihak, sehingga orangutan yang saat ini ada di pusat rehabilitasi bisa segera dilepasliarkan.”

Sejak 2012 sampai akhir Agustus 2015, Yayasan BOS telah melepasliarkan 186 orangutan, yaitu 155 orangutan dari Pusat Reintroduksi Orangutan Nyaru Menteng ke Hutan Lindung Bukit Batikap di Kalimantan Tengah dan 31 orangutan dari Pusat Reintroduksi Orangutan Samboja Lestari ke Hutan Kehje Sewen di Kalimantan Timur.

Untuk memastikan tingkat keberhasilan pelepasliaran orangutan, tim Pemantauan Pasca Pelepasliaran baik di Kalimantan Tengah maupun di Kalimantan Timur secara rutin melakukan pencatatan data perilaku orangutan untuk memantau dan mengevaluasi proses adaptasi orangutan di habitat barunya dan memberikan dukungan terhadap para individu orangutan tersebut sedini mungkin.

Hingga akhir Agustus 2015 tersebut, sekitar 92,5% orangutan yang telah dilepasliarkan dapat bertahan hidup dan hanya 14 orangutan atau 7,5% tidak dapat bertahan hidup di habitat barunya, yang terdiri dari sembilan orangutan di Hutan Lindung Bukit Batikap (Kalimantan Tengah) dan tiga orangutan di Hutan Kehje Sewen (Kalimantan Timur) diidentifikasi mengalami kematian, serta dua orangutan dari Hutan Kehje Sewen harus dikembalikan ke Samboja Lestari karena sakit parah atau untuk menghindari potensi konflik dengan masyarakat setempat.

Kepala BKSDA Provinsi Kalimantan Timur, Ir. Y. Hendradi Kusdihardjo, MM. mengatakan, “Kita harus ingat bahwa orangutan dan hutan sebagai habitatnya ini milik kita bersama, yang dilindungi keberadaannya oleh pemerintah melalui undang-undang. Melindungi orangutan berarti juga melindungi habitatnya, hutan. Dan ini yang tidak boleh dilupakan dan harus selalu diaplikasikan dalam pengelolaan tata lahan di Indonesia. Semua pihak termasuk pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus tetap mengacu pada batas-batas dan proses hukum, selain juga menerapkan kewajiban menjaga dan melestarikan lingkungan.”

Kegiatan pelepasliaran orangutan harus terus berjalan sesuai target yang ditetapkan dalam Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Orangutan Indonesia 2007-2017. Rencana Aksi ini dicanangkan oleh Presiden Republik Indonesia dalam Konferensi Perubahan Iklim di Bali tahun 2007, yang menyatakan bahwa semua orangutan di pusat rehabilitasi harus dikembalikan ke habitatnya paling lambat pada tahun 2015, dan telah disepakati oleh seluruh jajaran pemerintah, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten.

Dr. Jamartin Sihite, CEO Yayasan BOS turut menambahkan, “Pengawasan, pemantauan, dan penegakan hukum yang tegas sangat krusial untuk melindungi satwa—dalam hal ini orangutan—dan habitatnya. Untuk itu, peran Balai KSDA Kalimantan Timur dan aparat yang berwenang sangat dibutuhkan. Namun tak kalah penting juga adalah komitmen yang nyata dan serius dari Pemerintah Daerah, terutama Pemerintah Kabupaten Kutai Timur dan Kabupaten Kutai Kartanegara, untuk mewujudkannya. Hanya dengan penegakan hukum dan komitmen tersebutlah kita bisa memberikan kebebasan dan perlidungan bagi para orangutan, serta keanekaragaman hayati lainnya yang memang sudah seharusnya dilindungi kelestariannya demi kelangsungan siklus kehidupan di muka bumi ini.”

Pelepasliaran ini menjadi himbauan bagi semua pemangku kepentingan untuk mewujudkan aksi nyata dalam upaya konservasi orangutan demi kesejahteraan bersama dan masa depan yang berkelanjutan bagi seluruh makhluk hidup di bumi.

 

Kontak:

Paulina Laurensia Ela

Spesialis Komunikasi

Email: pauline@orangutan.or.id

Suwardi

Staf Komunikasi Samboja Lestari

Email: ardy@orangutan.or.id

*****************

Catatan Editor:

Tentang Yayasan BOS

Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo (Yayasan BOS) adalah organisasi nirlaba Indonesia yang berdedikasi terhadap konservasi orangutan Borneo dan habitatnya, bekerjasama dengan masyarakat, Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, serta organisasi-organisasi mitra di seluruh dunia.

Didirikan sejak tahun 1991, Yayasan BOS saat ini merawat lebih dari 700 orangutan dengan dukungan 420 karyawan yang berdedikasi tinggi, serta juga para ahli di bidang primata, keanekaragaman hayati, ekologi, rehabilitasi hutan, agroforestri, pemberdayaan masyarakat, edukasi, dan kesehatan orangutan. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi www.orangutan.or.id.

Tentang RHOI

PT Restorasi Habitat Orangutan Indonesia (RHOI) adalah perusahaan yang didirikan oleh Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo (Yayasan BOS) pada tanggal 21 April 2009, untuk sebuah tujuan spesifik, yaitu untuk mendapatkan Izin Usaha Pengelolaan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK) untuk Restorasi Ekosistem (RE) bagi pelepasliaran orangutan.

Sebagai sebuah LSM, Yayasan BOS tidak bisa secara legal mendapatkan izin ini. Karena itulah Yayasan BOS membentuk sebuah PT, yaitu RHOI, sebagai sarana untuk mendapatkan izin tersebut. IUPHHK-RE memberikan RHOI otoritas dalam penggunaan dan pengelolaan sebuah area konsesi – dalam hal ini hutan – yang sangat dibutuhkan untuk melepasliarkan orangutan.

Pada 18 Agustus 2010, RHOI berhasil mendapatkan IUPHHK-RE dari Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, atas lahan hutan seluas 86,450 hektar di Kabupaten Kutai Timur dan di Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur. Lahan konsesi ini menyediakan habitat yang layak, terlindungi dan berkelanjutan bagi para orangutan, selama 60 tahun, dengan opsi perpanjangan selama 35 tahun lagi. Dana untuk membayar izin tersebut, sebesar sekitar 1,4 juta dolar Amerika, didapatkan dari para donor Yayasan BOS yang berasal dari Eropa dan Australia.

RHOI menamakan lahan konsesi ini Hutan Kehje Sewen, mengadopsi bahasa lokal Dayak Wehea di mana ‘kehje sewen’ berarti orangutan. Jadi Kehje Sewen adalah hutan bagi para orangutan. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi website www.theforestforever.com.

PROFIL KANDIDAT PELEPASLIARAN ORANGUTAN KE-6 SAMBOJA LESTARI

Agustus 27, 2015. Posted in Article

Memperingati Hari Orangutan Internasional yang jatuh di tanggal 19 Agustus, Borneo Orangutan Survival Foundation akan kembali melepasliarkan 5 orangutan dari Samboja Lestari ke Hutan Kehje Sewen, Kalimantan Timur. Inilah profil mereka.

1. AJENG AJENG Ajeng adalah orangutan betina yang disita Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur dari seorang warga di Samarinda, Kalimantan Timur, dan tiba di Samboja Lestari pada 9 Agustus 2007. Saat itu ia masih berusia 1 tahun dan berada dalam keadaan baik dan sehat. Bayi perempuan Ajeng juga masih menunjukkan sifat liarnya, ia tidak suka jika ada manusia di dekatnya. Seiring berjalannya waktu, Ajeng pun menjadi orangutan yang pintar yang mau mengikuti pelajaran para babysitter di sekolah hutan. Di Pusat Rehabilitasi Orangutan Samboja Lestari, Ajeng menjadi siswa Sekolah Hutan 2 yang cukup pandai. Ia sangat mandiri dan pandai dalam mengenali pakan alaminya. Ia juga merupakan betina penjelajah yang handal dan sangat aktif beraktivitas di atas pohon. Dibandingkan dengan teman-temannya, Ajeng merupakan orangutan yang dominan. Kini Ajeng berusia 9 tahun dengan berat badan 33 kg. Orangutan betina yang cantik dengan rambut buy cialis in australia online tipis berwarna coklat kehitaman ini tak lama lagi akan membuktikan kemandiriannya di hutan yang sesungguhnya, Hutan Kehje Sewen. 2. LONG LONG Long adalah orangutan betina yang diserahkan oleh seorang warga Nehas Liah Bing kepada BOS Foundation Samboja Lestari, Kalimantan Timur pada 8 Agustus 2007. Ia datang sebagai bayi orangutan berusia 1 tahun yang masih memiliki sifat liarnya; ia tidak suka dipegang dan dipeluk oleh manusia dan akan bertindak agresif jika ada yang berusaha menyentuhnya. canadian pharmacy albuterol Kala ltu, Long ditemukan di areal Hutan Adat Dayak Wehea. Area ditemukannya Long ini berlokasi tidak jauh dari Hutan Kehje Sewen, hutan tempat pelepasliarannya kini. Long akan segera “pulang kampung”! Long kini telah tumbuh menjadi orangutan betina dominan yang memiliki sifat keibuan serta kemampuan yang mengesankan. Di Sekolah Hutan, Long seringkali terlihat mengasuh dan menjaga Arief, orangutan jantan berusia 3 tahun yang telah kehilangan induknya. Ke mana pun Long pergi, Arief akan setia mengikutinya dan Long dengan sabar menemani dan mengajaknya bermain. Long juga kerap kali terlihat mengajarkan kepada orangutan muda menjelajah hutan, mengenali pakan alami, juga membuat sarang. Kini si betina yang memiliki paras cantik sudah berusia 9 tahun dengan berat badan 34 kg. Ia telah siap kembali ke tempat dia dulu berasal untuk menjalani hidup baru sebagai orangutan liar sejati di Hutan Kehje Sewen. 3. ARIEF ARIEF Arief adalah orangutan jantan hasil konviskasi Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Tenggarong di rumah salah satu warga yang tinggal di Kecamatan Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Orangutan muda berusia 2 tahun itu telah kehilangan induknya dan dirawat oleh tim Samboja Lestari sejak Maret 2013. Di Sekolah Hutan, Arief bertemu dengan Long, orangutan betina berusia 9 tahun yang kemudian mengadopsinya dan menyayanginya layaknya anaknya sendiri. Kisah Long dan Arief bermula dari pertemuan mereka di Sekolah Hutan Level 1. Long—yang saat itu adalah murid Sekolah Hutan Level 2—bermain cukup jauh hingga ia tiba di Sekolah Hutan Level 1, tempat Arief belajar. Di sanalah dia bertemu dengan Arief. Entah bagaimana, naluri keibuan Long muncul dan dia mengangkat Arief dalam gendongannya. Arief, sebagai orangutan muda yang secara alami masih membutuhkan induk, tentu saja menerima ajakan Long. Sejak saat itulah mereka selalu bersama. Kini Arief tumbuh menjadi individu orangutan jantan yang mengagumkan berkat kasih sayang Long, ibu asuhnya. Dan diusianya yang menginjak 5 tahun dengan berat badan 14 kg, Arief dan Long akan segera kembali pulang ke rumah sejatinya di Hutan Kehje Sewen. 4. ERICA ERICA Erica adalah orangutan betina yang disita oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur dari seorang warga di Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, dan tiba di Samboja do my assignment for me australia Lestari pada 17 April 2006. Saat itu usinya 10 bulan. Erica sangat manja sekali dan sangat ramah terhadap orangutan yang lainnya. Erica dan teman-temannya yang lain belajar dan bermain bersama di Sekolah Hutan setiap harinya dan perkembangannya semakin mengesankan. Ia termasuk orangutan yang sangat mandiri, juga sangat aktif memanjat pohon dan suka menjelajah. Setelah melewati masa-masa yang menyenangkan di Pusat Rehabilitasi Orangutan Samboja Lestari, Erica yang cantik dan senang menyendiri kini berusia 9 tahun dengan berat badan 23 kg ini akan segera kembali ke habitat alaminya, Hutan Kehje Sewen, Kalimantan Timur. 6. LEONIE LEONIE Leonie merupakan orangutan betina yang diserahkan oleh seorang warga di Sangatta, Kalimantan Timur kepada BOS Foundation Samboja Lestari. Ia menemukan Leonie di lahan batubara di dekat desa tempat tinggalnya. Saat tiba di Samboja Lestari pada 8 November 2006, Leonie masih berumur 2 tahun dan ia terlihat takut dengan keberadaan manusia. Leonie yang mempunyai rambut coklat terang dan bertubuh besar ini dikenal sebagai murid terpandai di Sekolah Hutan Level 2. Leoni selalu mengajak orangutan lain untuk menjelajahi hutan dan mengajari mereka pakan alami yang tersedia di hutan. Di sekolah hutan, Leoni tidak terlalu suka berdekatan dengan babysitter atau teknisi. Dia memang semakin mandiri! Dengan kemampuan yang dimilikinya, Leonie yang best price cialis canadian pharmacy kini berusia 11 tahun dengan berat badan 34 kg ini siap menyongsong kebebasannya di Hutan Kehje Sewen, Kalimantan Timur.

Memantau Yayang dan Kedua Anaknya

Agustus 20, 2015. Posted in Article

Pada Minggu ini, kami kembali berangkat untuk melakukan pengamatan nest-to-nest untuk mengamati Yayang dan bayinya. Seperti yang telah kita ketahui bersama, Yayang, melahirkan anak keduanya beberapa waktu lalu (baca berita selengkapnya di http://theforestforever.com/breaking-news-yayang-has-given-birth-to-a-new-baby/?lang=ID). Anak ini adalah anak orangutan pertama yang lahir di Hutan Kehje Sewen. Yayang sendiri dilepasliarkan di Hutan Kehje Sewen pada bulan Desember 2013 viagra online cheap buy cialis lalu bersama anak pertamanya, Sayang, yang saat itu masih kecil.

Pengamatan nest-to-nest atau dari sarang ke sarang kami lakukan ketika kami harus mengumpulkan data tentang satu individu orangutan tertentu. Proses pengamatan ini mengharuskan kami bertolak dari Camp Lesik di pagi buta, mencari dan viagra for recreational use menemukan sarang tempat istirahat individu yang akan kami amati hari itu, kemudian mengikuti setiap pergerakannya, mencatat semua kegiatannya setiap 2 menit, sampai ia membangun cost of cialis per pill sarang baru menjelang matahari terbenam. Biasanya kami melakukan pengamatan nest-to-nest selama beberapa hari berturut-turut, kadang bisa beberapa minggu lamanya.

Pukul setengah 4 pagi, hari masih gelap gulita, tim yang terdiri dari 2 orang, Usup dan Rusda, meninggalkan Camp Lesik dan mengandalkan jejak observasi di hari sebelumnya untuk menemukan sarang Yayang. Untuk bisa mencapai titik yang terletak di transek cialis deflategate kali Tengah tersebut, Usup dan Rusda harus terlebih dulu mendaki bukit dengan kemiringan mencapai 45 derajat.

Yayang dan bayinya keluar meninggalkan sarang sesaat sebelum pukul 6 pagi. Tim juga melihat Sayang masih berada bersama mereka, dan tampaknya ikut tidur bersama. Kami pun memulai pengambilan data dan dokumentasi.

Yayang dan bayinya

Sepanjang hari selama observasi, Yayang dan bayinya masih beberapa kali turun ke tanah untuk mencari makan. Di tanah, mereka menyantap umbut Zingiberaceae, atau jahe-jahean. Selama sehari itu, Yayang, bayinya, dan Sayang terus bergerak perlahan menjauh dari jalan utama.

Sementara itu, Sayang menunjukkan ketidaksukaaannya atas kehadiran kami mengamati mereka. Sayang mengeluarkan bunyi kiss-squeak dan melemparkan patahan ranting ke arah kami.

sildenafil citrate 100mg

Sayang selalu berada dekat Yayang dan adiknya sembari menjaga mereka berdua agar tidak didekati manusia.

Menjelang sore hari, hujan melanda Hutan Kehje Sewen. Kami tidak bisa menghentikan pengamatan saat itu juga, karena kami harus memastikan lokasi sarang mereka untuk diikuti keesokan hari. Sekitar pukul 17.30, Yayang mulai membangun sarangnya untuk berteduh dari hujan yang tampaknya tidak akan segera berhenti. Sementara Sayang terlihat membuat sarangnya sendiri. Hal ini menunjukkan indikasi positif, karena Sayang sudah merasa perlu lebih mandiri, terutama setelah ie memiliki adik.

Kami pun kembali ke Camp Lesik setelah Yayang dan kedua anaknya beristirahat di dalam sarang.

Yayang, Sayang, dan si bayi mungil yang menempel erat pada Yayang.

Kunjungan Mona di Kamp

Sementara itu, ada kabar lain dari tim fenologi lembu yang bertemu Mona buy cialis online from india di tadalafil dosage and administration sekitar kamp mereka. Mona datang ke kamp itu sekitar pukul 6 pagi di saat langit masih gelap, tetapi tidak lama Mona pergi menjauh. Saat itu, Mona terlihat sendirian, berbeda dengan observasi terakhir saat ia bersama Juminten (baca kisahnya selengkapnya di sini: Reuni dengan Mona dan viagra testimonials Juminten – http://theforestforever.com/ID/a-reunion-with-mona-and-juminten/)

Dari pemantauan kami, Mona terlihat sangat sehat dan aktif berpindah dari satu pohon ke pohon lain.

Mona di kegelapan (foto di-over exposed)

Secara keseluruhan, kami sangat puas dengan hasil pengamatan kami pada pekan itu. Yayang dan kedua anaknya terlihat prima dan kami bahagia melihat Sayang sudah mulai menunjukkan kemandirian dengan membuat sarang sendiri, sekaligus perlindungan terhadap adik barunya dengan menunjukkan ketidaksukaannya diamati.

Mona juga membuat kami bangga. Orangutan betina nan cantik ini terlihat begitu sehat dan sangat aktif berpindah dari satu pohon ke pohon yang lain.

Meskipun pengamatan nest-to-nest mengharusan sildenafil kami berjuang keras, berangkat dan mencari lokasi sarang di tengah kegelapan, pemantauan melelahkan yang memakan waktu sehari penuh, namun hambatan itu tak akan pernah memudarkan semangat kami untuk selalau mengobservasi setiap orangutan sildenafil online liar yang kami lepasliarkan di Hutan Kehje Sewen ini. Mereka sangat berarti bagi kita semua.

Teks oleh: tim PRM Camp Lesik, Hutan Kehje Sewen

Kamu bisa mendukung tim kami dan kegiatan pemantauannya. DONASI SEKARANG ke Yayasan BOS dan bantu kami untuk tetap semangat!

Bertemu Lesan dan Casey

Agustus 5, 2015. Posted in Article

Selain fokus melakukan nest to nest terhadap Yayang dan bayi barunya, tim Post Release Monitoring (PRM) juga tetap melakukan pemantauan dan patroli rutin mencari sinyal keberadaan orangutan lain yang telah kami dilepasliarkan di Hutan Kehje Sewen. Pengamatan Nest to nest berarti kami harus bangun dan meninggalkan camp sebelum matahari terbit sehingga kami bisa memantau individu orangutan sebelum ia bangun dari sarangnya. Setelah orangutan memulai kegiatannya, kami mengambil data mereka setiap 2 menit terhadap segala sesuatu yang mereka lakukan, mulai dari dia makan, beristirahat, bermain, atau bertemu dengan orangutan lainnya; semuanya kami catat kegiatannya. Kami melakukan hal ini sampai sore ketika orangutan yang kami pantau membangun sarang baru untuk istirahat di malam hari. Bertemu Kembali dengan Lesan Lesan adalah salah satu orangutan betina remaja yang sudah hampir empat bulan ini tidak terdeteksi sinyalnya oleh tim PRM. Terakhir kali bertemu dan dipantau oleh tim PRM, Lesan bersama Casey, dan Hamzah sedang beraktivitas bersama di depan Camp Lesik (Baca cerita lengkapnya di: Tatapan Casey, Lesan, Hamzah, dan Mona). Beberapa minggu yang lalu terlihat Lesan beraktivitas di atas pohon di depan Camp Lesik, sepertinya ia datang dari arah Transek Ariyo. ribbet Lesan by rusda (2) Lesan terlihat tengah asyik makan buah Piper aduncum dan sesekali melihat ke arah kami yang sedang mencatat aktivitasnya dan memantaunya selama 2 jam. ribbet Lesan by rusda (3) Seusai menyantap makanannya, Lesan pergi menjauhi Camp Lesik dengan berpindah dari satu pohon ke pohon yang lain. Casey Yang Sehat Seminggu setelah bertemu dengan Lesan, tim PRM yang sedang melakukan patroli di transek Mobil Mogok bertemu dengan Casey. Saat itu kami sedang berusaha untuk mendapatkan sinyal orangutan dengan naik ke punggungan bukit di transek Mobil Mogok. Tiba-tiba Casey muncul dari semak-semak tidak jauh dari kami berada, membuat kami kaget. ribbet Casey by Luy (3) Selama dua jam pengamatan, Casey banyak makan umbut-umbutan dan beberapa kali memanjat pohon, dan beristirahat. ribbet Casey by luy (2) Setelah dua jam pengamatan, kami pun meninggalkan Casey dalam keheningan karena tidak ingin terlalu mengganggu aktivitasnya. Hari sudah semakin sore, kami pun kembali ke Camp Lesik. Senang rasanya melihat dua betina yang sudah hidup selama tiga tahun lebih ini masih terus sehat dan aktif di Hutan Kehje Sewen. Kami terus berharap agar semua orangutan yang dilepasliarkan terus hidup sejahtera dan bahagia di rumah sejatinya, di Hutan Kehje Sewen.

Teks oleh: TIM PRM di Camp Lesik, Hutan Kehje Sewen

Kamu bisa mendukung tim kami dan kegiatan pemantauannya. DONASI SEKARANG ke BOS Foundation dan bantu kami untuk tetap semangat!