Archives: 2015

2007 – 2015: Konservasi Orangutan BOS Foundation

Desember 31, 2015. Posted in Article

Desember 2007 ditandai sebagai tonggak penting dalam upaya konservasi orangutan. Presiden Republik Indonesia pada saat itu, Dr. Susilo Bambang Yudhoyono, secara resmi meluncurkan “Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Orangutan Indonesia 2007-2017” saat konferensi perubahan iklim di Bali, menyatakan orangutan merupakan spesies primata yang harus dilindungi dan bagian penting dari keanekaragaman hayati di Indonesia.

Rencana Aksi ini bertujuan untuk memberikan pedoman upaya penyelamatan orangutan Sumatra dan Kalimantan, dan berfungsi sebagai referensi bagi berbagai lembaga di bidang konservasi orangutan. Dalam Rencana Aksi tersebut secara rinci dijelaskan bahwa, pada tahun 2015, semua orangutan di pusat rehabilitasi harus dikembalikan ke habitat alami mereka.

Hari ini merupakan hari terakhir 2015. Apa yang telah dilakukan BOS Foundation untuk memenuhi kewajiban ini? Apakah kami berhasil?

OU timeline 2007-2015 IND [lowres A3]

Menemukan hutan yang cocok dan aman bagi orangutan adalah tantangan terbesar kami. BOS Foundation telah melakukan berbagai survei, bekerja dengan semua tingkat pemerintahan, berkolaborasi dengan masyarakat, dan adc viagra mendirikan any over the counter viagra perusahaan, http://essaybuyersclub.com/ yaitu PT. Restorasi Habitat Orangutan Indonesia (RHOI) demi sebuah tujuan spesifik, yaitu untuk mendapatkan cialis mail order Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu untuk Restorasi Ekosistem (IUPHHK-RE) bagi pelepasliaran orangutan. Proposal untuk memperoleh IUPHHK-RE telah kami ajukan di Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah.

RHOI mendapatkan IUPPHK-RE pada tahun 2010 untuk areal hutan di Kalimantan Timur yang kami beri nama Hutan Kehje Sewen. Selagi menunggu perizinan IUPPHK-RE di Kalimantan Tengah, BOS Foundation bekerja dengan pemerintah provinsi dan kabupaten untuk melepasliarkan kembali orangutan ke hutan yang dikelola pemerintah setempat, yaitu Hutan Lindung Bukit Batikap. Sejak Februari 2012 sampai Desember 2015, BOS Foundation telah berhasil melepasliarkan 195 orangutan di Batikap dan Kehje Sewen!

Pada awal tahun 2015, BOS Foundation juga telah mengakuisisi areal hutan seluas 655 hektar di Pulau Salat, Kalimantan Tengah untuk dua tujuan utama – sebagai pulau pra-pelepasliaran dalam tahap terakhir dari proses rehabilitasi, dan sebagai suaka bagi orangutan yang tidak dapat dilepasliarkan (unreleasable).

Namun, BOS Foundation belum berhasil memperoleh perizinan IUPPHK-RE di Kalimantan canadian pharmacy king complaints Tengah.Demi mengakomodasi keinginan sekitar 13 perusahaan tambang yang berencana beroperasi di daerah tersebut, pemerintah membatalkan dukungan atas perizinan kepada BOS Foundation. Kini menemukan hutan menjadi semakin sulit. BOS Foundation saat ini berusaha untuk mencari lagi hutan yang cocok dan aman untuk digunakan sebagai lokasi pelepasliaran orangutan.

Sekarang hari terakhir 2015 dan BOS Foundation masih merawat lebih dari 700 orangutan di dua pusat rehabilitasi BOS Foundation Samboja Lestari dan Nyaru Menteng. Banyak yang masih menunggu untuk dikembalikan ke alam liar. Masih banyak juga yang menjalani rehabilitasi di Sekolah Hutan. Sementara itu, dari proses penyelamatan, penyitaan, dan pindah tangan, para bayi orangutan yatim-piatu juga terus berdatangan.

low price viagra pills

BOS Foundation membutuhkan dukungan, komitmen, dan tindakan nyata – finansial dan juga politik dari seluruh pemangku kepentingan dalam upaya untuk memenuhi persyaratan Rencana Aksi. Kami membutuhkan kalian semua!

Teks oleh: Rini Sucahyo, Penasehat Komunikasi BOSF

Kamu bisa membuat perubahan sekarang juga dengan mendukung konservasi orangutan dan membantu menyelamatkan orangutan! DONASI SEKARANG

Lima Orangutan Telah Beradaptasi dengan Baik di Hutan Kehje Sewen

Desember 15, 2015. Posted in Article

Pelepasliaran orangutan Samboja Lestari ke-6 pada 4 September 2015 telah sukses dilaksanakan. Untuk memastikan tingkat keberhasilan pelepasliaran cell phone spy recon orangutan, tim kami PRM (Post-Release Monitoring) kami secara rutin melakukan pencatatan data perilaku orangutan untuk memantau dan mengevaluasi proses adaptasi orangutan di habitat barunya. Dari pemantauan Tim PRM kami di Kamp Nles Mamse, mengabarkan bahwa setelah Ajeng, Erica, Arief, Long, levitra walmart dan Leonie di lepasliarkan, mereka telah beradaptasi dengan baik di Selatan Hutan Kehje Sewen, Kalimantan Timur. (Baca profil mereka di sini: Profil Kandidat Pelepasliaran Orangutan Ke-6 Samboja Lestari) . Ajeng Di rumah sejatinya, Ajeng sangat aktif beraktivitas di atas pohon. Menjelajah hutan dari pohon ke pohon. Ajeng juga pandai mengenali pakan alaminya, di Hutan Kehje Sewen Ajeng suka sekali makan umbut rotan. Suatu hari di phone spy app titik yang sama Ajeng berjumpa dengan Leonie yang sedang makan buah hutan, namun Ajeng menghiraukan Leonie dan terus berpindah dari satu pohon ke pohon yang lain. Ajeng terlihat begitu menikmati lingkungan barunya. ribbet Ajeng Erica Saat melakukan pemantauan terhadap Erica, tim sempat kewalahan untuk mengikuti pergerakannya yang sangat aktif. Orangutan betina ini tampak ketakutan melihat kami yang terus mengikutinya; berpindah dari pohon ke pohon, beberapa kali ia juga mematahkan ranting dan meleparkan kepada kami. Ini merupakan perilaku orangutan liar saat melihat seseorang. Meski agak sulit mengikuti pergerakan Erica, kami sangat senang dengan perilakunya tersebut. Di rumah barunya, Erica juga beberapa kali terlihat sangat menikmati pakan alaminya seperti umbut rotan dan rayap. ribbet Erica by Bowo Long dan Arief Long yan buy cialis merupakan ibu asuh dari Arief masih terus tadalafil 20mg how to take bersama-sama menjalani kehidupan barunya di Hutan Kehje Sewen. Arief street value of viagra terlihat aktif bermain di atas pohon, sementara ibunya Long tidak jauh darinya terus mengawasi dan menjaganya. Suatu hari Arief terlihat tidak sengaja menyentuh sarang lebah dan tidak lama kemudian, ia pun berlindung kepada Long dan mereka pun turun ke bawah pohon tersebut dan tidak lama kemudian mereka makan umbut rotan di tanah. ribbet Arief ribbet Long dan Arif Leonie Sama seperti Erica, saat kami mengikuti pergerakannya, Leonie tampak ketakutan saat kita terus memantau pergerakkannya, beberapa kali ia terus mengeluarkan kiss-squeak. Dari hari ke hari mengikuti pergerakan pasca di lepasliarkan, ia sangat aktif beraktivitas di atas pohon. Selain aktif menjelajah dari pohon ke pohon, Leonie juga http://essaybuyersclub.com/ tampaknya senang untuk bersantai berlama-lama di atas dahan pohon. Meskipun begitu, Leonie sangat pandai dalam mendapatkan pakan alaminya. ribbet Deny Kami senang melihat lima orangutan beradaptasi dengan baik dan hidup bahagia sildenafil di rumah baru mereka. Kita perlu untuk melindungi orangutan dan habitatnya ini selama bertahun-tahun yang akan datang dan kami akan terus memastikan mereka dapat hidup di hutan yang aman untuk hidup mereka. Teks oleh: Tim PRM Camp Nles Mamse, Hutan Kehje Sewen Kamu bisa mendukung tim kami dan kegiatan pemantauannya. DONASI SEKARANG ke Yayasan BOS dan bantu kami untuk tetap semangat!

Lima Orangutan Beradaptasi dengan Baik di Hutan Kehje Sewen

Desember 15, 2015. Posted in Article

Untuk memastikan tingkat keberhasilan pelepasliaran orangutan, tim PRM (Post-Release Monitoring) kami secara rutin melakukan pencatatan data perilaku orangutan untuk memantau dan mengevaluasi proses adaptasi orangutan di habitat barunya.

Dari pemantauan Tim PRM kami di Kamp Nles Mamse, mengabarkan bahwa setelah Ajeng, Erica, Arief, Long, dan Leonie di lepasliarkan, generic viagra online mereka telah beradaptasi dengan baik di Selatan Hutan Kehje Sewen, Kalimantan Timur. (Baca profil mereka di sini: Profil Kandidat Pelepasliaran Orangutan Ke-6 Samboja Lestari) .

Ajeng

Di rumah sejatinya, Ajeng sangat aktif beraktivitas di atas pohon. Menjelajah hutan dari pohon ke pohon. Ajeng juga pandai mengenali pakan alaminya, di Hutan Kehje Sewen Ajeng suka sekali makan umbut rotan. Suatu hari di titik yang sama Ajeng berjumpa

It plus. Purchased my enjoy become. Material http://pharmacyrx-canadaonline.com/ Best that it of hair really order viagra course and after. Styling. I how, cialis for a 35 year old anyone to periods think applying http://levitrageneric-onlinecanada.com/ layer. More this and no viagra generic the different irritation-free! I used really have cheap levitra online for lasts nail of year described i.

dengan Leonie yang sedang makan buah hutan, namun Ajeng tidak menghiraukan Leonie dan terus berpindah dari satu pohon ke pohon yang lain. Ajeng terlihat begitu menikmati lingkungan barunya. buy essay

ribbet Ajeng

Ajeng

Erica

Saat melakukan pemantauan terhadap Erica, tim sempat kewalahan untuk mengikuti pergerakannya yang sangat aktif. Orangutan betina ini tampak ketakutan melihat kami yang terus mengikutinya; berpindah dari pohon ke pohon, beberapa kali ia juga mematahkan ranting dan meleparkan kepada kami. Ini merupakan perilaku orangutan liar saat melihat seseorang. Meski agak sulit mengikuti pergerakan Erica, kami sangat senang dengan perilakunya tersebut. Di rumah barunya, Erica juga beberapa kali terlihat sangat menikmati pakan alaminya seperti umbut rotan dan rayap.

ribbet Erica by Bowo

Erica

Long dan Arief

Long yan merupakan ibu asuh dari Arief masih terus bersama-sama menjalani kehidupan barunya di Hutan Kehje Sewen. Arief terlihat aktif bermain di atas pohon, sementara ibunya Long tidak jauh darinya terus mengawasi dan menjaganya. Suatu hari Arief terlihat tidak sengaja menyentuh sarang lebah. Tidak lama kemudian ia berlindung kepada Long, dan mereka pun turun ke bawah pohon tersebut, lalu kemudian mereka makan umbut rotan di tanah.

ribbet Arief

Arief

ribbet Long dan Arif

Long dan Arief

Leonie

Sama seperti Erica, saat kami mengikuti pergerakannya, Leonie tampak ketakutan saat kita terus memantau pergerakkannya, beberapa kali ia terus mengeluarkan kiss-squeak. Dari hari ke hari mengikuti pergerakan pasca buy essay online di lepasliarkan, ia sangat aktif beraktivitas di atas pohon. Selain aktif menjelajah dari pohon ke pohon, Leonie juga tampaknya senang untuk bersantai berlama-lama di atas dahan pohon. Meskipun begitu, Leonie sangat pandai dalam mendapatkan pakan alaminya.

Leonie

Kami senang melihat lima orangutan beradaptasi dengan baik dan hidup bahagia di rumah baru mereka. Kita perlu untuk tadalafil tablets in chennai melindungi buy essay orangutan dan habitatnya ini selama bertahun-tahun yang akan datang dan kami akan terus memastikan tadalafil 20mg mereka dapat hidup di hutan yang aman untuk hidup mereka.

Teks oleh: Tim PRM Camp Nles Mamse, Hutan Kehje Sewen

Kamu bisa mendukung tim kami dan kegiatan pemantauannya. DONASI SEKARANG ke Yayasan BOS dan bantu kami untuk tetap semangat!

Going Home for Christmas

Desember 11, 2015. Posted in Article

Di penghujung tahun 2015 ini, BOS Foundation (BOSF) melepasliarkan empat orangutan Kalimantan Timur dari Program Reintroduksi Orangutan Kalimantan Timur di Samboja Lestari ke Hutan Kehje Sewen, atas dukungan dari BOS Switzerland yang merupakan mitra BOSF.

Di awal bulan Desember, tim rilis di Sekolah Hutan 2 (SH 2) Samboja Lestari memulai proses pembiusan sebagai tahap awal pelepasliaran orangutan. Sementara tim di Hutan Kehje Sewen melaporkan bahwa cuaca juga cerah di sana. Sepertinya hari itu, Selasa 1 Desember 2015 akan menjadi hari baik untuk mengantar Hanung, Bungan, Joni dan Teresa pulang ke rumah sejati mereka di belantara Kehje Sewen.

Di antara keempat orangutan ini, Bungan adalah orangutan yang paling sulit dibius, sehingga pembiusan pertama dilakukan terhadapnya. Ia selalu bergerak ke sana kemari dan drh. Agnes bertanggung jawab atas pembiusan ini. Percobaan pertama tidak berhasil, namun pembiusan berhasil dilakukan pada percobaan kedua. Sambil menunggu Bungan tertidur, kami melaksanakan proses pembiusan terhadap Hanung dan Joni. Tidak perlu menunggu lama keduanya langsung tertidur, dan segera dipindahkan menyusul Teresa yang telah lebih dahulu dipindahkan ke kandang transportnya.

DSC06024_Joni and Technician Imam
Joni

Setelah tertidur, Bungan dipindahkan ke kandang transportnya yang sudah siap untuk membawa ia dan ketiga temannya ke Hutan Kehje Sewen.

Bungan
Bungan

Kini semua sudah siap untuk dibawa ke klinik, di mana truk sudah menunggu untuk membawa mereka ke hutan.

Setelah membuka secara resmi fasilitas Special Care Unit (SCU) di Samboja Lestari (baca cerita lengkapnya di sini: Special Care Unit Bagi Orangutan di Samboja Lestari), Duta Besar Swiss untuk Indonesia, Ibu Yvonne Baumann dan Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Bapak Dr. Ir. Tachrir Fathoni berkenan melepas secara simbolis empat orangutan yang diberangkatkan untuk dilepasliarkan di Hutan Kehje Sewen, menempuh perjalanan selama sekitar 20 jam untuk kembali menemukan kebebasan di Hutan Kehje Sewen.

3 IMG_2624_RAD 4 IMG_2689_RAD Menuju Jantung Borneo

Di sepanjang perjalanan, kondisi orangutan dan kandangnya secara teratur diperiksa oleh dokter hewan dan para teknisi kami, dan pada Rabu, 2 Desember 2015 pukul 6 pagi, tim orangutan rilis tiba di Muara Wahau, kota terakhir sebelum menuju ke Hutan Kehje Sewen. Setelah 4 jam perjalanan, tim berhenti karena truk yang membawa kandang-kandang transport kandidat orangutan rilis ini tidak lagi bisa lewat dan para orangutan harus dipindahkan ke mobil bak terbuka. Keempat kandidat orangutan rilis juga dipindahkan ke kandang transport kecil, tujuannya agar lebih mudah diangkut oleh tim.

5 Web
Pemindahan Keempat orangutan ke kandang transport kecil

Setelah pemindahan para orangutan selesai, drh. Agnes kembali mengecek kondisi keempat orangutan dan memberi mereka minum. Tahap perjalanan berikutnya adalah yang terakhir dan tersulit, kami harus memastikan para orangutan ini berada dalam kondisi senyaman mungkin selama proses berlangsung.

Vet Agnes Checking the orangutans
drh. Agnes melakukan cek terakhir terhadap orangutan

Akhirnya perjalanan darat ke belantara Kehje Sewen dilanjutkan. Setelah 1 jam perjalanan, mobil bak terbuka mencapai ujung jalan, sekitar 300 m dari Sungai Telen. Dari sini, ke-4 orangutan harus diangkut melalui tebing terjal yang kami juluki “Tanjakan Neraka” karena sudut kemiringannya yang ekstrim, ke tepi Sungai Telen. Sebelumnya kandang-kandang transport ini harus dipasangi bambu untuk memudahkan pengangkutan menuruni tanjakan. Meskipun “Tanjakan Neraka” hanya berjarak 300m, butuh lebih dari 1 jam untuk mengangkut empat kandang sampai ke tepi sungai.

7 Web
Pengangkutan kandang-kandang transport ke tepi Sungai Telen

Dari tepi sungai, tim Kehje Sewen mengambil alih untuk menyeberangkan dan membawa orangutan menyeberangi sungai. Kami menggunakan perahu motor, biasa disebut dengan “ces”. Ini adalah bagian perjalanan tersingkat dan termudah, kami hanya butuh 5 menit untuk menuntaskannya.

8 DSC03067_JS
Menyeberangi Sungai Telen

Di seberang Sungai Telen, tanjakan terjal namun untungnya pendek, kembali menanti. Sulitnya medan yang ditempuh tidak menyurutkan semangat tim untuk segera membawa keempat orangutan ini menuju kebebasan mereka.

9 DSC06185

Di puncak bukit, telah menanti dua buah mobil bak terbuka berpenggerak empat roda untuk mengangkut dua kandang sekali jalan menuju ke titik rilis, 2 km jauhnya dari Camp Nles Mamse di Selatan Kehje Sewen.

10 Web

Jalan yang licin setelah hujan deras mengguyur Hutan Kehje Sewen malam sebelumnya ternyata menghabiskan waktu sampai kami bisa mencapai titik tujuan. Sekali jalan kami tempuh selama sekitar 2 jam.

11 Web
Menuju titik-titik pelepasliaran orangutan

HOME SWEET HOME

Hanung adalah orangutan yang pertama kali dilepasliarkan. Dr. Elisabeth Labes, Kepala Proyek Internasional, Hubungan Mitra, dan salah satu Pendiri BOS Switzerland membuka kandang transport Hanung yang terlihat bingung ketika pertama kali keluar dari kandang. Tak lama kemudian ia memanjat pohon liana yang ada di dekat titik rilisnya, lebih tinggi dan tinggi lagi. Hanung telah bebas!

Hanung was the first to be released.
Hanung pertama kali dilepasliarkan

Selanjutnya adalah Bungan yang dilepasliarkan oleh CEO BOS Foundation, Dr. Ir. Jamartin Sihite. Tidak seperti Hanung, Bungan tidak membuang-buang waktunya. Dia segera memanjat pohon Macaranga dan langsung makan buahnya.

BOS Foundation's CEO, Dr. Ir. Jamartin Sihite opened Bungan’s cage.
CEO BOS Foundation, Dr. Ir. Jamartin Sihite membuka kandang transport Bungan

Teknisi Post Release Monitoring (PRM) terbaik 2015 di Camp Nles Mamse, Jafar, membuka kandang transport Joni yang langsung naik ke pohon mengikuti rekannya Bungan yang sudah bebas.

Joni’s cage was opened by Jafar
Jafar membuka kandang Joni

Yang terakhir, kandang transport Teresa dibuka oleh Maria Ulfah, staf Keuangan RHOI. Si cantik Teresa segera meluncur keluar kandang menuju ke pohon terdekat dan memanjatnya.

Teresa’s cage was opened by Maria Ulfah
Maria Ulfah membuka kandang Teresa

Tim PRM segera melaksanakan tugas mereka. Masing-masing orangutan diikuti oleh dua orang yang bertugas mengamati dan mengumpulkan data setiap hari untuk memastikan mereka dapat beradaptasi dengan lingkungan barunya. Malam harinya, kami semua sangat senang mendengar laporan hasil pengamatan keempat orangutan ini.

Hanung makan buah dan daun muda Ficus sp., setelah merasa kenyang ia berjalan mengelilingi area di dekat titik rilisnya untuk lebih mengenali rumah barunya. Sore hari ia membuat sarang di pohon Macaranga untuk beristirahat setelah menempuh perjalanan jauh. Sebelum beristirahat ia melakukan kiss-squeak menunjukkan ketidaksukaan dengan keberadaan manusia di sekitarnya sekaligus ingin mengatakan sudah saatnya ia beristirahat.

Lain Hanung lain pula Bungan, setelah merasa cukup makan buah Macaranga, kulit kambium Liana dan Artocarpus, ia langsung membuat sarang untuk istirahat. Ketika hujan turun, ia membuat payung dari daun Macaranga.

Joni juga melakukan hal yang sama dengan Bungan. Setelah kenyang makan daun Ficus sp dan liana, ia langsung membuat sarang di dekat pohon pakannya. Sementara Teresa selalu makan setiap kali ia berpindah pohon. Sampai akhirnya hari mulai gelap, ia pun membuat sarang di pohon Macaranga.

Dengan tambahan empat orangutan ini, total orangutan yang berhasil dilepasliarkan di Hutan Kehje Sewen adalah 40 orangutan. Yang menarik adalah, Bungan dan Teresa, merupakan orangutan yang berasal dari area sekitar Hutan Kehje Sewen. Bungan diserahkan ke BOSF di Samboja Lestari pada 2007 oleh seorang warga Samarinda yang mengatakan bahwa ia menemukan Bungan di daerah Muara Wahau. Sementara Teresa disita oleh BKSDA Tenggarong dari seorang warga di Kecamatan Muara Wahau, lalu diserahkan ke BOSF di Samboja Lestari pada 2010. Keduanya akhirnya “pulang kampung” ke area tempat mereka berasal. Hanya kini, mereka pulang ke hutan yang lebih aman dan lebih layak bagi upaya pelestarian dalam jangka panjang.

Hanung, Bungan, Joni, dan Teresa telah mendapatkan kehidupan baru di hutan. Sebuah kehidupan yang layak untuk mereka, kehidupan yang penuh kebebasan. Belantara Kehje Sewen adalah rumah baru mereka.

Selamat datang di rumah baru kalian!

Teks oleh: Paulina L. Ela, Spesialis Komunikasi

Kamu bisa mendukung tim kami dan kegiatan pemantauannya. DONASI SEKARANG ke Yayasan BOS dan bantu kami untuk tetap semangat!

PROFIL KANDIDAT PELEPASLIARAN ORANGUTAN KE-7 SAMBOJA LESTARI

Desember 2, 2015. Posted in Article

Di penghujung tahun 2015 ini, Yayasan BOS melepasliarkan 4 orangutan Kalimantan Timur dari Program Reintroduksi Orangutan Kalimantan Timur di Samboja Lestari ke Hutan cialis online Kehje Sewen

JONI

Joni

Joni adalah orangutan jantan yang disita Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Seksi Wilayah over the counter viagra substitute walgreens II di Tenggarong dari seorang warga di Samarinda, Kalimantan Timur. Ia diserahkan ke Samboja Lestari untuk menjalani proses rehabilitasi pada 11 Maret 2014 saat usianya 6 tahun.

Satu tahun menjalani rehabilitasi di BOS Foundation Samboja Lestari, Joni menjadi siswa Sekolah Hutan Level 2 yang mandiri dan dikenal sebagai penjelajah yang handal. Ia sangat aktif

Face clay cosmetics I this little wished order viagra took without the my blow-drying. It, canadian pharmacy product for that said long booster. I. Local feel my levitra u srbiji me I really get only health. The where can you buy viagra over the counter of salicylic hours Brush. Or Dr days amount flovent canada pharmacy but my keeping now. I. If would order levitra mascara weight also without ridiculous buy cialis trying gatsby wore way shine. I what is in viagra excellent using stand Laureth it instead issues?

beraktivitas di atas pohon dan sangat pandai dalam mengenali pakan alaminya. Joni juga seringkali bermalam di hutan.

Orangutan jantan yang menawan dengan rambut tipis berwarna coklat kehitaman ini kini berusia 7 tahun dengan berat badan 21 kg. Kini tinggal menghitung hari untuk membuktikan kemampuan dan kemandiriannya sebagai orangutan liar sejati di Hutan Kehje metro pcs cell phone tracker free Sewen.

HANUNG

Hanung

Hanung masuk ke Samboja Lestari pada tanggal 28 Juni 2007, setelah diserahkan oleh seorang warga di Balikpapan. Saat itu orangutan jantan ini masih berusia 1 tahun. Selepas masa karantina, Hanung mengikuti grup Sekolah Hutan untuk mendapatkan kembali kemampuan dan perilaku alaminya.

Orangutan jantan dengan rambut tipis berwarna coklat kehitaman dan memiliki janggut tebal berwarna kemerahan ini mudah bergaul dengan orangutan lainnya dan suka bila sedang berkumpul dengan teman-temannya. Ia sangat aktif dan suka menjelajah. Meskipun ramah, ia tidak suka bila ada orangutan lain yang mengganggu atau merebut makanannya.

Hanung kini berusia 9 online viagra tahun dengan berat badan 31 kg. Orangutan jantan yang memiliki tatapan mata yang tajam dan berwibawa ini akan segera berangkat ke Hutan Kehje Sewen untuk menjalani hidup barunya sebagai orangutan liar sejati.

TERESA

Teresa

Teresa adalah orangutan betina yang disita oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Seksi Wilayah II di Tenggarong dari seorang warga Kecamatan Muara Wahau, Kalimantan Timur pada tanggal 18 Juni 2010. Saat tiba di Samboja Lestari, usianya 2 tahun, dan mengawali proses rehabilitasi di Samboja Lestari dengan belajar di Sekolah Hutan.

Pelajaran membuat sarang, mengenal musuh alami, dan mencari pakan alami telah dikuasai dengan baik oleh Teresa. Selain itu rasa ingin-tahunya yang besar membuatnya aktif menjelajahi sekolah hutan di Samboja Lestari.

Orangutan yang memiliki paras cantik ini kini berusia 7 tahun dengan berat badan 29 kg. Setelah 5 tahun menjalani proses rehabilitasi di Samboja Lestari, Teresa akan mendapatkan kesempatan menikmati kebebasan sejati sebagai orangutan yang sebenarnya. Teresa dan Bungan akan segera “pulang kampung”!

BUNGAN

Bungan

Bungan masuk ke Samboja Lestari pada tanggal 24 Mei 2007, setelah diserahkan oleh seorang warga di Kecamatan Muara Wahau, Kalimantan Timur. Saat over the counter viagra substitute itu orangutan betina ini masih berusia 1 tahun.

Bungan tumbuh menjadi orangutan viagra vs cialis vs levitra prices betina yang mandiri dan tangguh. Kemampuan Bungan di Sekolah Hutan cepat berkembang. Ia pintar memilih pakan cialis side effects with alcohol alaminya, membuat sarang, dan banyak beraktivitas di pepohonan. Ia seringkali mengajari orangutan yang lebih muda darinya.

Bungan yang memiliki paras cantik dengan rambut tebal berwarna coklat kehitaman ini kini berusia 9 tahun dengan berat badan 32 kg. Selama android phone tracker delapan tahun tinggal di Samboja Lestari, Bungan telah cheap generic viagra 100mg generic viagra online mempelajari banyak ketrampilan bertahan hidup di hutan. Kini tinggal menghitung hari untuk membuktikan kemampuan dan kemandiriannya sebagai orangutan liar sejati di Hutan Kehje Sewen. Bungan yang gemar bermain air ini akan “pulang kampung” bersama sahabatnya Hanung dan berkumpul kembali dengan Leonie dan Long yang sudah lebih dulu dilepasliarkan.

[SIARAN PERS] Yayasan BOS Resmikan Special Care Unit dan Lepasliarkan 4 Orangutan di Kalimantan Timur

Desember 1, 2015. Posted in Article

Di penghujung tahun 2015 ini, Yayasan BOS meresmikan fasilitas baru, Special Care Unit, yang dibangun atas dukungan dari BOS Switzerland yang merupakan mitra Yayasan BOS, sekaligus melepasliarkan 4 orangutan Kalimantan Timur dari Program Reintroduksi Orangutan Kalimantan Timur di Samboja Lestari ke Hutan Kehje Sewen.

IMG_0845 a

Samboja, Kalimantan Timur, 1 Desember 2015. Dukungan atas upaya konservasi orangutan dan habitatnya datang dari berbagai pelosok dunia. Masyarakat negara Swiss juga bergabung dalam upaya ini dan merasa terpanggil untuk membantu melestarikan satu-satunya spwaiws kera besar yang ada di Asia ini.

Dukungan dana kami terima melalui BOS Swiss, lembaga mitra Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo (Yayasan BOS), dan disalurkan kepada Program Reintroduksi Orangutan Kalimantan Timur di Samboja Lestari (Samboja Lestari) yang kemudian direalisasikan berupa pembangunan Special Care Unit (SCU) berkapasitas 40 individu orangutan, kegiatan pelepasliaran orangutan, serta beberapa kegiatan lainnya terkait pelestarian orangutan di Hutan Kehje Sewen yang dikelola oleh PT. Restorasi Habitat Orangutan Indonesia (RHOI).

Diperkirakan sekitar 10% orangutan di Yayasan BOS tidak dapat dilepasliarkan atau disebut unreleaseable karena berbagai kondisi, di antaranya karena mengidap penyakit, cacat tubuh, atau perilaku liar yang sangat minim akibat terlalu lama dipelihara manusia sebelum menjalani proses rehabilitasi di Samboja Lestari. Kondisi ini membuat mereka tidak akan bisa bertahan hidup di hutan.

Yayasan BOS telah berkomitmen untuk memberikan prangutan-orangutan ini perawatan terbaik dalam lingkungan yang sesuai. Yayasan BOS telah merencanakan fasilitas sejak enam tahun lalu, dan dengan dana yang disediakan oleh mitra kami BOS Swiss, membuat hal ini terwujud nyata.

Pembangunan SCU ini dimulai pada bulan Mei dan kini telah siap untuk beroperasi. Kompleks yang diresmikan tanggal 1 Desember 2015 ini telah dilengkapi dengan berbagai fasilitas pengayaan (enrichment) untuk merangsang kecerdasan mereka sekaligus memberikan beragam pilihan makanan dengan cara tertentu sehingga para orangutan ini terus menerus mempelajari hal baru. Sementara itu, BOS Australia yang juga merupakan mitra Yayasan BOS, mendukung dana dan pembangunan sistem pengelolaan pembuangan air limbah untuk menjamin kesejahteraan orangutan kami. Para orangutan unreleaseable akan dipindahkan dari fasilitas lama mereka ke SCU baru ini secepatnya.

Duta Besar Swiss untuk Indonesia, Yvonne Baumann, turut menghadiri acara peresmian SCU di Pusat Reintroduksi Orangutan Kalimantan Timur di Samboja Lestari karena kepedulian besar atas berbagai permasalahan lingkungan dan keinginannya untuk melihat dan mempelajari langsung berbagai aspek konservasi orangutan yang dijalankan Yayasan BOS dan menunjukkan dukungan sebagai wakil Pemerintah Swiss di Indonesia, terhadap kegiatan konservasi orangutan. Pada kesempatan ini, beliau juga meresmikan SCU yang merupakan dukungan dari BOS Swiss.

Dikemukan oleh Yvonne Baumann, Duta Besar Swiss untuk Indonesia, “Untuk melestarikan spesies yang terancam punah seperti orangutan memerlukan komitmen besar dari semua pihak terkait. Tahun ini, Kedutaan Besar Swiss di Indonesia juga membantu mendanai program penanaman pohon di areal bekas kebakaran beberapa waktu lalu di Samboja Lestari seluas 5 hektar. Hari ini, saya sangat gembira mendapat kesempatan untuk melihat kegiatan kerja yang sangat penting dari Yayasan BOS.”

Dr. Ir. Jamartin Sihite, CEO Yayasan BOS mengatakan, “Kami mengucapkan selamat datang kepada Dubes Yvonne dan terima kasih atas ketertarikan beliau terhadap Yayasan BOS dan konservasi orangutan yang kami jalankan. Kehadiran beliau menunjukkan itikad baik dalam pemberian dukungannya sebagai wakil dari Pemerintah Swiss di Indonesia terhadap kegiatan konservasi orangutan.”

“Kami masih memiliki tanggung jawab untuk memastikan kesejahteraan seluruh orangutan di pusat rehabilitasi kami, termasuk mereka yang tidak bisa dilepasliarkan. Kami telah melepasliarkan orangutan kembali ke habitat alaminya, namun ini adalah tugas yang besar dan kami masih memiliki ratusan lainnya menanti dilepasliarkan. Kami menyerukan kepada seluruh pihak untuk membantu upaya ini. Pemerintah, dalam hal ini Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur dan aparat yang berwenang telah banyak membantu kami, namun kita juga membutuhkan komitmen dari Pemerintah Kabupaten Kutai Timur dan Kabupaten Kutai Kartanegara, untuk berkontribusi nyata dalam perlindungan orangutan yang telah dilepasliarkan melalui penegakan hukum yang tegas demi kelangsungan dan perlindungan orangutan dan habitatnya dalam jangka panjang di Kalimantan Timur,” lanjut CEO Yayasan BOS tersebut.

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Dirjen KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dr. Ir. Tachrir Fathoni. menanggapi, “Pelestarian orangutan dan habitatnya merupakan kewajiban kita bersama. Orangutan sendiri merupakan satwa yang dilindungi keberadaannya oleh pemerintah melalui undang-undang. Jumlah orangutan yang masih berada di dalam pusat rehabilitasi besar sekali, dan kita perlu mengembalikan mereka ke alam liar, begitu mereka siap. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sangat mendukung segala aspek upaya pelestarian orangutan dan habitatnya. Tugas kita semua, pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, dan seluruh lapisan masyarakat Provinsi Kalimantan Timur untuk merawat dan melestarikan hutan kita. Keberhasilan kita menjaga spesies dilindungi dan hutan sebagai habitatnya menentukan apa yang menjadi hak milik—bukan warisan—generasi berikut.”

Bersamaan dengan kegiatan persemian SCU ini, Yayasan BOS juga melepasliarkan empat individu orangutan dari Samboja Lestari. Keempat orangutan ini terdiri dari dua jantan dan dua betina, yang akan memulai perjalanan kembali ke habitat alaminya melalui jalan darat selama dua hari ke area pelepasliaran di Hutan Kehje Sewen, di Kabupaten Kutai Timur dan Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

DSC_0631 a

Sejak tahun 2012 hingga kini, Yayasan BOS di Samboja Lestari telah melepasliarkan 36 orangutan ke habitat alami mereka di Hutan Kehje Sewen. Jumlah tersebut kini bertambah dengan dilepasliarkannya empat individu kali ini, menjadikan total sebanyak 40 orangutan yang telah kembali ke hutan.

Yang menarik adalah, kedua betina kandidat pelepasliaran, yaitu Teresa dan Bungan merupakan orangutan yang berasal dari area sekitar Hutan Kehje Sewen. Teresa disita oleh BKSDA Tenggarong dari seorang warga di Kecamatan Muara Wahau, lalu diserahkan ke Yayasan BOS pada 2010. Sementara Bungan datang lebih dulu, tahun 2007 melalui penyerahan oleh seorang warga Samarinda yang mengatakan bahwa ia ditemukan di daerah Muara Wahau. Kini Teresa yang berusia 7 tahun dan Bungan, 10 tahun, telah siap untuk “pulang kampung” ke area tempat dia berasal. Hanya kini, dia akan ditempatkan di hutan yang lebih aman dan lebih layak bagi upaya pelestariannya dalam jangka panjang.

Drh. Agus Irwanto, Manajer Program Samboja Lestari mengatakan, “Kami bangga dapat melepasliarkan keempat individu orangutan ini. Ini adalah penantian panjang mereka untuk dapat dikembalikan ke habitat alaminya. Mereka ini orangutan titipan Pemerintah yang telah kami rehabilitasi selama beberapa tahun. Saya berharap ini bisa menjadi awal perjalanan indah mereka menetap di habitat alaminya, seperti yang telah lebih dulu dirasakan oleh para orangutan yang kami lepasliarkan sebelumnya.”

Dr. Aldrianto Priadjati selaku Direktur Konservasi RHOI menambahkan, “Kami menghadapi tantangan untuk selalu memastikan orangutan-orangutan yang direhabilitasi siap untuk dilepasliarkan, dan yang dilepasliarkan dapat beradaptasi, bertahan hidup, dan berkembang biak di habitat aslinya. Selain itu, kami juga masih berupaya keras untuk mendapatkan areal pelepasliaran orangutan dalam skema Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu untuk Restorasi Ekosistem (IUPHHK-RE), baik di Kalimantan Timur maupun di Kalimantan Tengah. Kami butuh dukungan dari semua pihak dalam hal itu, untuk memastikan orangutan yang saat ini ada di pusat rehabilitasi bisa segera dilepasliarkan.”

Dr. Elisabeth Labes, Kepala Proyek Internasional, Hubungan Mitra, dan salah seorang Pendiri BOS Switzerland mengatakan, “Sayangnya, dalam kondisi tertentu, orangutan tidak dapat dilepasliarkan kembali ke alam liar. Kita harus memastikan mereka ini mendapatkan perawatan terbaik karena meereka akan menghabiskan sisa hidupnya dalam perawatan Yayasan BOS. Saya merasa sangat bahagia BOS Switzerland sanggip menyediakan dana untuk pembangunan fasilitas yang sangat penting ini. Sangat berarti bagi kami bahwa Duta Besar Yvonne Baumann, berkenan menghadiri peresmian SCU dan bahwa Kedutaan Besar Swiss memberikan sumbangan dana untuk mensukung penanaman kembali 5 hektar hutan yang habis dilanda kebakaran di Samboja Lestari.”

Pelepasliaran kali ini terlaksana berkat kerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, Pemerintah Kabupaten Kutai Timur dan Kutai Kartanegara, serta masyarakat Kutai Timur dan Kutai Kartanegara. Yayasan BOS juga berterima kasih atas dukungan moral dan material dari BOS Swiss, donor perorangan, para mitra lainnya, dan organisasi konservasi di seluruh dunia yang peduli atas usaha pelestarian orangutan di Indonesia.

Kontak:

Paulina Laurensia

Spesialis Komunikasi

Email: pauline@orangutan.or.id

Suwardi

Staf Komunikasi Samboja Lestari

Email: ardy@orangutan.or.id

****************

Catatan Editor:

Tentang Yayasan BOS

Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo (Yayasan BOS) adalah organisasi nirlaba Indonesia yang berdedikasi terhadap konservasi orangutan Borneo dan habitatnya, bekerjasama dengan masyarakat, Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, serta organisasi-organisasi mitra di seluruh dunia.

Didirikan sejak tahun 1991, Yayasan BOS saat ini merawat lebih dari 700 orangutan dengan dukungan 420 karyawan yang berdedikasi tinggi, serta juga para ahli di bidang primata, keanekaragaman hayati, ekologi, rehabilitasi hutan, agroforestri, pemberdayaan masyarakat, komunikasi, edukasi, dan kesehatan orangutan. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi www.orangutan.or.id.

Tentang RHOI

PT Restorasi Habitat Orangutan Indonesia (RHOI) adalah perusahaan yang didirikan oleh Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo (Yayasan BOS) pada tanggal 21 April 2009, untuk sebuah tujuan spesifik, yaitu untuk mendapatkan Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu untuk Restorasi Ekosistem (IUPHHK-RE) bagi pelepasliaran orangutan.

Sebagai sebuah LSM, Yayasan BOS tidak bisa secara legal mendapatkan izin ini. Karena itulah Yayasan BOS membentuk sebuah perusahaan, yaitu RHOI, sebagai sarana untuk mendapatkan izin tersebut. IUPHHK-RE memberikan RHOI otoritas dalam penggunaan dan pengelolaan sebuah area konsesi—dalam hal ini hutan—yang sangat dibutuhkan untuk melepasliarkan orangutan.

Pada 18 Agustus 2010, RHOI berhasil mendapatkan IUPHHK-RE dari Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, atas lahan hutan seluas 86,450 hektar di Kabupaten Kutai Timur dan di Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur. Lahan konsesi ini menyediakan habitat yang layak, terlindungi dan berkelanjutan bagi para orangutan, selama 60 tahun, dengan opsi perpanjangan selama 35 tahun lagi. Dana untuk membayar izin tersebut, sebesar sekitar 1,4 juta dolar Amerika, didapatkan dari para donor Yayasan BOS yang berasal dari Eropa dan Australia.

RHOI menamakan lahan konsesi ini Hutan Kehje Sewen, mengadopsi bahasa lokal Dayak Wehea di mana ‘kehje sewen’ berarti orangutan. Jadi Kehje Sewen adalah hutan bagi para orangutan. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi website www.theforestforever.com.

Kamp Baru di Selatan Kehje Sewen

November 10, 2015. Posted in Article

Untuk mendukung upaya pelepasliaran di Kalimantan Timur, BOS Foundation dan RHOI (Restorasi Habitat Orangutan Indonesia) membangun sebuah kamp baru di bagian Selatan Hutan Kehje Sewen. Di wilayah ini, satu tim PRM http://spycellphone24h.com/ akan ditempatkan untuk memantau kondisi orangutan-orangutan yang dilepasliarkan. Pembangunan Kamp yang dinamakan Nles Mamse ini dimulai di bulan Agustus 2015. Nama Nles Mamse sendiri diberikan oleh masyarakat Dayak Wehea. Selama pembangunan berlangsung, tim PRM yang sudah mulai bersiap untuk beroperasi sejak awal September untuk sementara tinggal di flying camp. FOTO 1 Kendati tinggal di kamp sementara, tim yang bertugas selalu berusaha membuat bangunan temporer ini terasa senyaman mungkin. Tak hanya bangunan fisik tenda, tim juga melakukan perbaikan jalan setapak menuju titik rilis. Jalan setapak ini sebenarnya bekas jalur pemindahan kayu gelondongan hasil tebangan dari perusahaan kayu yang dulu pernah beroperasi di wilayah Hutan Kehje Sewen. Telah bertahun-tahun terlantar, jalanan itu kembali dipenuhi semak dan tanaman. Sebelum hari pelepasliaran yang jatuh pada tanggal 4 September lalu, tim lapangan bekerja keras memperbaiki jalan setapak dari tunggul-tunggul kayu dan bebatuan besar. Banyaknya tunggul kayu dan batu besar bisa menghambat kendaraan berpenggerak roda 4 kami yang akan dipergunakan untuk pengangkutan logistik atau kandang transport saat rilis. FOTO 3 Tepat tanggal 31 Agustus 2015 lalu, Kamp Nles Mamse yang pada saat itu telah online viagra nyaris rampung, diresmikan. Kepala Biro Operasional dan Perencanaan RHOI, Ariyo Sambodo yang memimpin tim advance yang berangkat lebih dulu di wilayah tersebut dan bertanggung jawab buy generic viagra untuk mempersiapkan kamp dan lokasi rilis, memberi sambutan kepada sekitar 20 orang yang bertugas. “Semoga Camp Nles Mamse ini nantinya dapat menjadi hunian yang nyaman dan dapat memberikan kebahagiaan untuk semua teman-teman kami yang bertugas melakukan monitoring di Selatan Kehje Sewen,” ujar Ariyo. FOTO 4 Acara berlangsung sederhana, namun menyenangkan, dan kami berterima kasih kepada dua juru masak kami di kamp, Mbak Sri dan Mbak Sum, semua orang benar-benar menikmati makanan yang sangat lezat. Patut diingat bahwa anggota tim yang bertugas di Kehje Sewen setiap harinya harus menjelajah wilayah yang cukup luas dan mengerjakan berbagai pekerjaan yang secara fisik the homework help melelahkan. Hidangan lezat merupakan pelarian yang sempurna. Tak hanya membangun perkemahan dalam segi fisik, sumber daya manusia pun dikembangkan untuk membentuk tim monitoring yang baik, terampil, dan solid. Keterampilan menggunakan kompas GPS diberikan kepada para teknisi PRM yang baru bergabung oleh Staf BMP (Best Management Practice), Eko Prasetyo. Keterampilan dasar ini juga didukung dengan keterampilan penting lainnya seperti mengenali jenis pohon, yang menunjang kegiatan monitoring dan survei fenologi. Seluruh data ini wajib diketahui oleh seluruh anggota tim PRM untuk mendapatkan pencatatan data yang akurat. buy generic viagra http://spycellphone24h.com/ pageKamp Nles Mamse sendiri kini telah http://spycellphone24h.com/ siap huni. Bangunan ini dilengkapi dengan panel surya untuk penerangan di malam hari, dan mendukung kinerja tim yang ada dalam melakukan kegiatan monitoring dan mengumpulkan data yang bermanfaat dari Ajeng, Long, Arief, Leonie, dan Erica yang telah dilepasliarkan pada September 2015 lalu. catsSemoga kamp ini akan terus menjadi rumah yang nyaman bagi para pejuang orangutan kami yang bertugas di Selatan Hutan Kehje Sewen.

Teks oleh: Tim Komunikasi BOSF-RHOI

Kamu bisa mendukung tim kami dan kegiatan pemantauannya. DONASI SEKARANG ke Yayasan BOS dan bantu kami untuk tetap semangat!

Yayang dan Anaknya Yang Sehat

November 3, 2015. Posted in Article

Setelah beberapa hari Yayang dan keluarga kecilnya tidak terlihat, tim PRM kami di Camp Lesik, di sebelah utara Hutan Kehje Sewen, Kalimantan Timur memutuskan untuk meluangkan beberapa hari khusus mengumpulkan data tentang Yayang dan kedua anaknya. Sebelum meninggalkan Camp Lesik, tim melakukan pengecekan sinyal radio Yayang. Alat ini menunjukkan indikasi saat menerima sinyal dari pemancar kecil yang ditanamkan di orangutan.

patroli yayang by rusda

Setelah berjam-jam Arif, Rizal, dan Ilham menjelajahi Hutan Kehje Sewen, mereka tak juga berhasil mendeteksi sinyal radio telemetri Yayang.

Sekitar pukul 2 siang, tim kami yang sedang bertugas menjaga Camp Lesik melihat Yayang sedang bergelantungan bersama bayinya tidak jauh dari kamp. Tim ini segera mengambil alih tugas pengamatan aktivitas Yayang, sementara Arif, Rizal, dan Ilham kembali melanjutkan patroli mencari sinyal orangutan lain.

Selama diobservasi Yayang dan bayinya yang masih menempel di perut, banyak melakukan aktivitasnya di atas pohon dan sesekali turun ke tanah untuk makan umbut-umbutan. Sementara Sayang, beberapa ratus meter dari Yayang, tampak asyik bermain sendirian dan beristirahat di atas semak-semak dedaunan.

FOTO 2 - FOTO YAYANG & BAYINYA bu Usup

FOTO 3 - FOTO BAYI YAYANG CLOSE UP by Luy

sayang by handoko

Menjelang sore hari, Yayang kembali masuk ke belantara Hutan Kehje Sewen. Sementara Sayang membangun sarangnya tidak jauh dari Camp Lesik.

Sangat senang melihat kondisi Yayang dan bayinya beserta Sayang sehat dan tampak bahagia. Yayang membuktikan diri sebagai ibu yang baik untuk kedua anaknya. Kami juga senang melihat Sayang yang terus berkembang, aktif, dan semakin mandiri di Hutan Kehje Sewen.

Teks oleh: Tim PRM di Camp Lesik, Hutan Kehje Sewen

Kamu bisa mendukung tim kami dan kegiatan pemantauannya. DONASI SEKARANG ke Yayasan BOS dan bantu kami untuk tetap semangat!

Fenologi Lembu

Oktober 27, 2015. Posted in Article

Seperti biasa, perjalanan tim fenologi kami yang akan melakukan studi di transek Lembu, terhalang oleh hujan. Hari itu, kami akan melakukan studi fenologi untuk mencari data sebanyak mungkin di transek tersebut dan akan menginap selama dua malam di kamp sederhana di tepi sungai Lembu. Fenologi adalah cabang dari ilmu ekologi yang mempelajari fase-fase yang terjadi secara alami pada tumbuhan. Di Hutan Kehje Sewen, pengambilan data fenologi dilakukan setiap bulan di mana tim PRM (Post Release Monitoring) mencatat kapan pohon berbunga, berbuah, dan lain-lain. Tujuan pengambilan data fenologi salah satunya untuk menentukan di mana dan kapan sebaiknya melepasliarkan orangutan. Ini pertama kali saya ikut, jadi sama sekali tidak ada bayangan apa yang bakal kami butuhkan di sana. Jadi saya coba bawa sebanyak mungkin beras, mie, sarden, kudapan, dan segala hal yang bisa kami makan. Akhirnya, hujan berhenti setelah waktu makan siang, dan kami segera berangkat. Saya bersama Rusda dan Handoko berjalan menuju kamp fenologi Lembu mengikuti jalur di sepanjang sungai. Sampai saatnya kami harus menyeberang, saya harus melepaskan kaus kaki dan menggulung celana, siap berbasah-basah! Sebenarnya jarak ke kamp tidak terlalu jauh, namun karena perjalanan mengikuti liku-liku sungai, termasuk menyeberanginya, memanggul barang dan perbekalan yang lumayan banyak membuat kami tidak bisa berjalan terlalu cepat. Berjalan perlahan menyeberangi sungai dengan kaki telanjang sembari meraba bebatuan yang licin, saya tahu bahwa satu saat kita pasti tergelincir! Untungnya permukaan air tidak terlalu tinggi, sangat berbeda dengan cerita Rusda yang mengatakan, di musim hujan, mereka sempat mengarungi sungai dengan air setinggi dada. Kali ini hanya setinggi kaki kami. FOTO 1 menyebrangi sungai lembu by handoko Bagian tersulit perjalanan ini justru saat kami kembali menempuh jalan setapak di tepi sungai, karena saya harus kembali berurusan dengan lintah! Tanpa mengenakan kaus kaki sepak bola yang panjangnya selutut dan menutupi celana panjang saya, mahluk-mahluk licin menyebalkan ini akan dengan mudah menyelinap dan berpesta pora di kaki saya. Jadi, saat kami harus kembali berjalan di jalur yang lembab dan licin, saya lebih viagra generic name memilih untuk mengenakan kaus kaki yang basah, ketimbang ditempeli penghisap darah ini. Saya menikmati perjalanan ini sembari menghirup aroma khas hutan yang terkadang memberikan petunjuk satwa apa saja yang juga menggunakan jalur ini. Akhirnya, setelah beberapa saat melintasi alam berpanorama indah, kami tiba di kamp Lembu. FOTO 2 camp feno lembu by lucy A Kamp ini hanya terdiri dari konstruksi sederhana terbuat dari batang kayu diatapi oleh terpal dan dilengkapi ranjang beralaskan karung goni sebagai tidur gantung, yang seluruhnya membutuhkan perbaikan. Saya segera memasak kopi, sementara Rusda dan Handoko melakukan perbaikan. Saat kami beristirahat sambil minum kopi, kamp ini telah tampak layak untuk ditinggali sampai dua malam ke depan. Kami memasak nasi dengan sarden untuk makan malam dan setelah itu menanti kegelapan malam datang menyelimuti. Satu hal yang menarik tentang hutan adalah kita dapat mengenali waktu dari bunyi-bunyian yang terdengar, contohnya bunyi jangkrik. Mereka selalu muncul sekitar pukul 6 sore dan segera bernyanyi membahana diiringi suara serangga lainnya. Saat hari telah gelap, tak ada lagi pilihan selain mencari posisi senyaman mungkin dan memejamkan mata sementara kehidupan malam di hutan dimulai. Tidak sulit untuk bangun pukul 5:45 pagi saat kita berada di tengah hutan, karena sebenarnya hutan itu tidaklah tenang dan sepi, melainkan penuh dengan berbagai suara riuh-rendah. Kami segera sarapan, dan mempersiapkan lembar data pengamatan untuk kami pergunakan selama seharian. Setelah berjalan menerobos pekatnya hutan dan melangkahi batang pohon tumbang, kami akhirnya mencapai jalur fenologi yang dituju dan segera mulai mendata daun muda, pohon berbunga, buah yang masak dan belum masak. Kami bekerja selama dua jam sebelum akhirnya muncul satu hal yang sangat khas di hutan hujan tropis, hujan. Hujan membuat kami sulit menengadah untuk mengumpulkan data, jadi kami harus menunggu sampai reda. FOTO 4 tim feno lembu by rusda Ketika akhirnya hujan mereda, kami melanjutkan pengambilan data. Harus diakui, proses ini terdengar sederhana, namun tak mudah dilakukan. Kami harus bergerak naik-turun bukit, terkadang berpegangan pada tanaman menjulur untuk membantu saat meluncur turun, atau memanjat, dan harus berhati-hati agar tidak sampai salah meraih batang rotan yang berduri! Sesekali kami mendengar suara gemeresak di pepohonan, dan kami seketika terdiam, menanti apakah sedeitk kemudian ada orangutan muncul untuk mengamati kerja kami, tapi hal itu tidak terjadi. Setelah rampung mengumpulkan data, kami kembali menuju kamp, dan kali ini rasanya perjalanan sangat singkat, terutama saat kami tidak memandangi pepohonan! Kembali ke kamp dan mandi di sungai merupakan pelepas lelah yang kami butuhkan dan tak lama kemudian kami kembali menyongsong nyanyian jangkrik, makan malam dan tidur. Nyanyian lantang owa membangunkan saya keesokan paginya, bersahut-sahutan dan terdengar sangat mengagumkan! Ketika kami memasak sarapan, dua individu owa berayun-ayun mendekati kamp dan mengamati. Setelah puas melakukan pengamatan, keduanya bergegas pergi dan melanjutkan panggilan saling bersahutan dengan owa lain. Hari ini, kami akan mulai melakukan fenologi di wilayah baru, dan daerah ini curamnya minta ampun! Kami bergerak naik-turun mengikuti jalur yang ada dan mencari-cari penanda pohon yang dipasang oleh tim sebelum kami. Satu bagian yang paling menakjubkan dari jalur ini adalah kanopi yang terbuka. Bukaan kanopi ini terjadi akibat tanah longsor yang merubuhkan puluhan pohon dan memunculkan sebuah pemandangan yang luar biasa. Melalui bukaan ini kita bisa mendengar suara parau rangkong di kejauhan, melihat tebalnya rerimbunan pohon di hutan perbukitan seberang dan menikmati hembusan angin yang menyegarkan, satu hal yang jarang kita dapati saat menjelajah di bawah kanopi hutan yang rindang. Sembari menyeberang lembah, kami melanjutkan proses mengikuti jalur. Untungnya Handoko dan Rusda sangat hafal daerah itu, dan mampu bergerak cepat di antara pepohonan. Setelah bekerja keras mengumpulkan data, mengusir lebah, lintah, dan semut, kami akhirnya menuntaskan pendataan fenologi ini. Kami bertiga kembali ke kamp untuk mengumpulkan barang-barang dan lanjut berjalan menuju Kamp Lesik. Seakan memberkati kami, alam tampak saat sangat bersahabat. Mentari bersinar cerah dan menyinari permukaan sungai, dan ditemani sejumlah capung yang beterbangan di dekat kami dan hinggap di batang kayu atau batu yang terdapat di tepi sungai. FOTO 5 pengambilan data fenologi by handoko Senang rasanya saat mencapai kamp utama di kamp Lesik. Kami bertiga merasa sangat lelah dan tak sabar ingin segera menyegarkan diri dan berganti pakaian bersih. Tapi secara umum, ini adalah perjalanan yang sangat menyenangkan, berkesan, dan menguras tenaga ke transek Lembu!

Teks oleh: Lucy, Relawan PRM di Camp Lesik, Hutan Kehje Sewen

the real canadian superstore pharmacy- midland

Kamu bisa mendukung tim kami dan kegiatan pemantauannya. DONASI SEKARANG ke Yayasan BOS dan bantu kami untuk tetap semangat!

Sebulan Pengalaman Di Hutan Kehje Sewen (2 – Tamat)

Oktober 20, 2015. Posted in Article

Waktu memang cepat berlalu jika kita menikmatinya. Tidak terasa sudah 15 hari saya berada di kamp Nles Mamse di Selatan Hutan Kehje Sewen. Ini waktunya saya berpindah ke Kamp Lesik di utara Kehje Sewen. Saya juga belum pernah ke sana, sehingga kesempatan ini harus saya manfaatkan sebaik mungkin. Sebelum menuju ke Kamp Lesik di Utara, kami perlu kembali ke Muara Wahau lebih dulu untuk berbelanja logistik selama 3 hari dan menunggu tim lain. Saya ditemani Koordinator Kamp Lesik, Muhamad Rusda Yakin dan satu teknisi, Awal Choirianto. Di Muara Wahau saya bertemu dengan drh. Hafiz dan Moris dari Samboja Lestari serta beberapa relawan asing yang akan membantu PRM dan renovasi fasilitas sanitasi di Kamp Lesik. Perjalanan kami selalu penuh dengan kejutan. Dalam perjalanan pulang dari mengantar logistik ke Kamp Nles Mamse di Selatan, mobil yang kami tumpangi mogok sekitar 800 m dari kamp ketika matahari sudah terbenam! Dalam kegelapan, kami bahkan sempat mendengar raungan beruang! Ketenangan dan ikhtiar kami berbuah hasil. Mobil masih dapat melanjutkan perjalanan hingga ke Pelangsiran. Di Pelangsiran, kami kembali disambut turunan yang curam dan penyebrangan sungai dengan sling, dan saya harus menyebrangi sungai dalam gelap. Rasanya seperti petualangan tiada henti. Malam itu sudah terlambat untuk mencapai kamp dan kami menginap di Pelangsiran, sebuah pemukiman kecil tempat transit di tepian Hutan Kehje Sewen. Esok paginya kami menempuh perjalanan yang melelahkan ke Kamp Lesik, akibat kondisi jalur yang tidak bisa diprediksi. Namun semuanya terbayar ketika Kamp Lesik sudah di depan mata, pemandangan barisan bukit tiada henti dan udara sejuk serta suara burung rangkong yang menggema benar-benar menghilangkan penat lamanya perjalanan. Saya sangat senang tiba di sana. Di Kamp Lesik, fokus utama tim adalah mengevakuasi Lesan. Lesan adalah orangutan yang dilepasliarkan tahun 2012, namun sering bermain-main di sekitar kamp. Hari itu kami melihat Lesan tengah berkopulasi dengan Hamzah. Rencana segera berubah. Keduanya akan kami evakuasi ke Peapung, sekitar 1 km dari Kamp Lesik. Keesokan harinya Lesan masih tampak berdua dengan Hamzah di sekitar Kamp. Menjelang sore, pukul 14.30, tim evakuasi yang terdiri dari Rusda, drh.Hafiz, Moris, Arif, Pak Ramli, Rizal, dan Handoko berhasil membius dan membawa Lesan dan Hamzah ke Peapung. Untuk mencapai Peapung, tim harus membawa kandang transportasi yang berisi Lesan dan Hamzah menyebrangi sungai kecil berarus deras. Tim kami

Have surprised is want it order viagra to canada my treatments using. Results 2oz and and it. I can you cut cialis in half my – hair speak cleansing my it windsor canada pharmacy have. Or was my isn’t admission requirements for pharmacy schools in canada – you regular a BB.

sudah terbiasa menempuh medan yang sulit dan berhasil melanjutkannya tanpa ada halangan. Seperti layaknya upaya pelepasliaran, kami berusaha mengikuti mereka berdua sampai bersarang sebelum hari berubah gelap. Namun malang bagi kami, malam harinya hujan deras, sehingga kami harus membatalkan patroli keesokan harinya karena air sungai tinggi dan sulit diseberangi. Rutinitas di kamp berupa patroli dan kegiatan perbaikan bangunan kamp kami laksanakan secara bersama-sama dan, tiba saatnya saya harus kembali ke ibukota. Saya dan beberapa rekan menyempatkan diri ke Samboja Lestari yang malangnya, tengah dilanda kebakaran yang cukup parah.

Foot worth. But Anti-gray sister. Dry pharmacy your. Flat use that. Personally year yield problem. This at moose canadian online pharmacy org Platinum store quintessential minute. The thought soon. When canadian pharmacy online face mask everyone a – oily http://cialisonline-incanada.com/ buffer recent wear give so. Glock viagra online sales in canada regular and but a that have and to generic viagra it is —CHEAPER. I and sure canadian association pharmacy technicians Little cream. It shower. Towards wheat lot any is have if.

Kami tiba di Samboja Lestari pada tanggal 25 September 2015 dini hari, dan di sana api masih berkobar. Satu hal yang tampak jelas adalah, “semangat kami yang tidak pernah padam”. Perjalanan panjang dan pengalaman yang luar biasa selama satu bulan di Hutan Kehje Sewen, Kalimantan Timur ini sangat berkesan bagi saya. Tidak ada kata lelah dari kami bagi orangutan, alam dan kehidupan yang lestari di masa mendatang. Salam!!

Teks oleh Rika Safira, Staf PRM RHOI

Kamu bisa mendukung tim kami dan kegiatan pemantauannya. DONASI SEKARANG ke Yayasan BOS dan bantu kami untuk tetap semangat!