Archives

Perjalanan Singkat Penuh Kejutan (2 – Tamat)

Januari 16, 2017. Posted in Article

Setelah melakukan survei titik pelepasliaran, kami bergabung dengan rapat harian tim PRM di Kamp Nles Mamse. Di sini kami menerima informasi tentang keberadaan orangutan jantan liar tidak dikenal berkeliaran di Kehje Sewen bagian Selatan. Tim melihat ia kerap bersama Leonie, orangutan betina yang dilepasliarkan September 2015 lalu. Tim berencana untuk terus memantau aktivitas mereka berdua.

Di hari ketiga, kami memutuskan untuk berjalan kaki mengecek jalur ke arah Pelangsiran, sebuah desa transit kecil di perbatasan Hutan Kehje Sewen. Namun, sebelum mencapai Pelangsiran, kami memutuskan kembali ke kamp, karena saya dan Christian kelelahan. Jarak sejauh delapan kilometer dari Kamp Nles Mams ke Pelangsiran ternyata terlalu berat bagi kami, dan kami beristirahat di dekat muara ditemani suara burung enggang dan kangkareng yang terbang bebas di sekitar kami.

Usai menunaikan tugas menentukan titik pelepasliaran orangutan di Selatan Kehje Sewen, dan di hari keempat kami kembali ke Muara Wahau, kota terdekat dengan lokasi kami. Namun, lagi-lagi kami dihadapkan dengan situasi tak terduga.

Setelah mencapai “jalan buntu”, di akhir tanjakan curam sepanjang 400 meter, sekaligus titik terjauh yang bisa dicapai kendaraan, kami ternyata masih harus menunggu rombongan mobil penjemput. Kami sudah mengatur penjemputan di pagi hari, namun tidak ada satu pun mobil yang tampak. Seakan ingin membantu menyejukkan keresahan kami, hujan mulai turun di tengah hari. Kami menunggu sepanjang hari tanpa kabar, karena kami berada di kawasan tanpa sinyal telepon. Tidak ada pilihan lain selain menunggu di bawah flying camp yang kami temukan di dekat situ, karena jalan kembali ke kamp terlalu licin apalagi setelah hujan.

Sampai matahari terbenam, belum juga ada tanda-tanda mobil datang dan kami berempat pasrah jika memang harus bermalam di hutan. Namun ketika kami baru mulai membuat api unggun, suara derungan mobil terdengar dari kejauhan. Kami semua lega melihat Pak Susilo dan Mas Heri, supir yang menjemput kami akhirnya tiba. Mereka menjelaskan, bahwa ada pohon tumbang yang memblokir jalan dari Pelangsiran, dan mereka harus menyingkirkan pohon itu terlebih dulu. Tak mau berlama-lama, kami bergegas ke Muara Wahau. Kami tiba di Muara Wahau sekitar pukul 9 malam dan beristirahat sejenak di hotel kota itu, lantas melanjutkan perjalanan kami ke Balikpapan.

Bagi Christian, yang baru saja bergabung dengan Tim Samboja Lestari, ini merupakan perjalanan pertamanya ke hutan dan sangat berkesan. Dia mengatakan, bahwa ini melelahkan, namun sangat menyenangkan! Saya setuju. Kendati perjalanan ini singkat yang melelahkan, tapi kejutan dan kejadian menarik selalu muncul saat kita melakukan perjalanan di hutan. Namun inilah yang membuatnya begitu menarik! Sampai jumpa di petualangan selanjutnya di Hutan Kehje Sewen

September 23, 2016. Posted in Article

Pakan Alami Orangutan di Hutan Kehje Sewen

Tantangan terbesar dalam usaha melepasliarkan orangutan kembali ke alam liar adalah menemukan hutan yang cocok untuk mereka tinggali. Untuk menentukan kelayakan sebuah area hutan sebagai wilayah potensial pelepasliaran, pertama kita perlu melakukan survei fenologi menyeluruh untuk memastikan kawasan terkait memiliki ketersediaan pakan alami yang cukup untuk sepanjang tahun.

Survei fenologi meliputi pencatatan data semua pohon buah sekaligus sumber pakan lain bagi orangutan seperti kulit kayu, tunas, daun, dan serangga. Survei fenologi juga mencatat musim berbuah masing-masing pohon untuk memastikan ketersediaan makanan di musim yang berbeda.

Beberapa pakan alami orangutan yang tersedia di Hutan Kehje Sewen:

  • Ardisia sp., buah ini secara lokal dikenal sebagai lampeni atau rempeni, buah yang menyerupai buah ceri, berbentuk bulat kecil dan berwarna merah.

(Foto buah Ardisia)

  • Artocarpus sp., sejenis nangka, berkerabat dekat dengan cempedak dan sukun.

(Foto buah Artocarpus)

  • Durian yang kerap dijuluki ‘raja segala buah’. Di Hutan Kehje Sewen terdapat jenis durian yang mempunyai kulit berwarna merah, dan mengandung banyak karbohidrat, lemak, protein, dan mineral yang baik untuk orangutan.

(Foto buah durian)

  • Berbagai jenis bunga hutan, seperti Ficus aurata, Lithocarpus gracilis, dan Macaranga gigantea.

(Foto kompilasi Bunga Ficus, dll)

  • Beberapa jenis umbut, seperti umbut rotan dan umbi sejenis jahe.

(Foto: Raymond makan umbi sejenis jahe (Etlingera sp. shoots)

  • Rayap, yang kaya akan protein, dapat ditemukan dalam batang-batang pohon yang lapuk.

(Foto Angely makan rayap)

Hutan Kehje Sewen merupakan areal hutan primer yang luasnya 86.450 hektar, yang kaya akan sumber makanan bagi orangutan. Dari survei fenologi kami, yang mencatat setiap tumbuhan sekaligus seberapa banyak jumlah/kerapatannya, kami menemukan bahwa hampir 200 spesies tanaman tumbuh di sana.

Hutan Kehje Sewen kaya akan makanan bergizi bagi orangutan dan dapat mempertahankan populasi satwa lainnya. Kesulitan dalam mendapatkan hutan yang cocok untuk pelepasliaran orangutan rehabilitasi mengharuskan BOS Foundation untuk ‘menyewa’ hutan dalam skema Restorasi Ekosistem (IUPHHK-RE) sejak tahun 2010. Dengan 700 orangutan masih di bawah perawatan kami, kami berharap dukungan dari pemerintah pusat dan provinsi untuk membantu BOS Foundation mendapatkan lebih banyak kawasan hutan pelepasliaran.

Teks oleh: Tim PRM di Hutan Kehje Sewen

Dalam rangka merayakan ulang tahun BOS Foundation ke-25 di tahun ini, kami berharap orangutan akan terus hidup dengan aman di habitat alami mereka yang baru. Kami akan melakukan yang terbaik untuk terus memantau perkembangan mereka dan berharap untuk mendapatkan laporan terbaru yang menarik terkait adaptasi mereka di tahun ini! Kamu bisa mendukung tim kami dan kegiatan pemantauannya. DONASI SEKARANG ke BOS Foundation dan membuat perubahan bagi kelangsungan hidup masa depan orangutan!

Perjalanan Singkat Penuh Kejutan (1)

September 8, 2016. Posted in Article

Sebagai koordinator Tim Post-Release Monitoring (PRM) RHOI, saya bertanggung jawab melakukan persiapan untuk kegiatan pelepasliaran orangutan berikutnya di Kalimantan Timur. Saya diberi tugas untuk menyiapkan pemantauan dan menilai kandidat orangutan release di Samboja Lestari sekaligus menentukan titik pelepasliaran di Hutan Kehje Sewen. Karena tugas lain yang masih menumpuk di kantor, saya hanya punya satu minggu untuk mempersiapkannya!

Saya cukup beruntung bekerjasama dengan tiga orang hebat yang sangat peduli akan konservasi orangutan. Mereka adalah ahli primata dan pakar orangutan terkemuka Indonesia, Dr. Sri Suci Utami Atmoko, yang juga merupakan dosen saya di Universitas Nasional, Jakarta; Asisten Manager Animal Welfare di Samboja Lestari, Christian Nicholas Pranoto; dan Misdi, peneliti orangutan yang pernah menjadi koordinator di Kamp Tuanan, Program Konservasi Mawas, Kalimantan Tengah tahun 2014-2015 lalu.

From left to right: Dr. Sri Suci, Misdi, Saya sendiri, dan Christian

Persiapan dimulai di Program Reintroduksi BOS Foundation Samboja Lestari dengan diskusi kelompok untuk memilih dan menetapkan individu untuk dirilis. Ada beberapa syarat sebelum orangutan rehabilitasi dapat dilepasliarkan. Kandidat rilis harus sehat, pernah melewati “pelatihan” di sekolah hutan atau di pulau pra-pelepasliaran, menunjukkan perilaku mandiri dan secara konsisten tidak suka dengan keberadaan manusia (dengan mengeluarkan suara kiss-squeak), dan berusia cukup. Kami menemukan lima orangutan yang memenuhi persyaratan, namun nama dan jumlah mereka bisa berubah sewaktu-waktu.

Setelah menentukan kandidat orangutan rilis, kami beralih ke tugas berikutnya, yaitu menentukan titik rilis di selatan Kehje Sewen. Ada dua lokasi yang menurut kami layak untuk disurvei, satu di eks-Kamp Mugi Triman dan satu lagi di sekitar transek fenologi.

Pada hari pertama, kami mengamati eks-Kamp Mugi Triman (Mugi Triman adalah nama perusahaan kayu yang dulu beroperasi di wilayah tersebut). Lokasi ini berjarak sekitar tiga kilometer dari Kamp Nles Mamse dan merupakan titik pelepasliaran pada Mei 2016 lalu. Tim PRM kami melaporkan, bahwa orangutan yang dilepasliarkan saat itu kini sudah menjelajah jauh, dengan demikian, lokasi ini kami anggap kawasan yang baik untuk pelepasliaran orangutan berikutnya. Namun, dalam perjalanan, kami menemukan jembatan untuk menunju ke sana runtuh. Kami memutuskan bahwa rute ini terlalu berisiko, mengingat tim rilis harus mengangkat kandang transportasi, yang beratnya bisa mencapai lebih dari 100 kilogram.

Jalan setapak sepanjang 15-20 meter, dengan tebing berbahaya berketinggian 8-10 meter di kanan-kirinya

Pada hari berikutnya, kami memeriksa pilihan berikutnya, daerah sekitar transek fenologi, sekitar 4 kilometer dari Kamp Nles Masme. Tim PRM kami telah mensurvei area ini pada tahun 2015, dan jalur ini dapat diakses mobil, hanya butuh sedikit pembersihan jalan saja. Kami anggap lokasi ini pilihan terbaik untuk pelepasliaran orangutan mendatang.

Transek Fenologi

Pantau terus laman RHOI untuk tahu kelanjutan petualangan seru saya di Hutan Kehje Sewen!

Teks oleh: Rika Safira, Koordinator PRM RHOI di Kantor Pusat

Dalam rangka merayakan ulang tahun BOS Foundation ke-25 di tahun ini, kami berharap orangutan akan terus hidup dengan aman di habitat alami mereka yang baru. Kami akan melakukan yang terbaik untuk terus memantau perkembangan mereka dan berharap untuk mendapatkan laporan terbaru yang menarik terkait adaptasi mereka di tahun ini! Kamu bisa mendukung tim kami dan kegiatan pemantauannya. DONASI SEKARANG ke BOS Foundation dan membuat perubahan bagi kelangsungan hidup masa depan orangutan!

Angely di Zona Nyamannya

Agustus 30, 2016. Posted in Article

Suatu pagi yang dingin di bulan Agustus di Hutan Kehje Sewen, tiga anggota Tim PRM kami di Camp Nles Mamse (Rizal, Yosi, dan Luy) berangkat untuk melakukan observasi nest-to-nest pada Angely, orangutan betina yang dilepasliarkan BOS Foundation Mei lalu. Pengamatan nest-to-nest mengharuskan tim untuk mendokumentasikan kegiatan sehari-hari dari satu orangutan selama satu hari penuh, mulai sebelum fajar sampai tenggelamnya matahari.

Setelah Angely bangun dari sarangnya, dia langsung bergegas pindah ke sebuah pohon rambutan di dekat situ dan menghabiskan waktu cukup lama menyantap buahnya. Dia kemudian bersantai di dahan pohon dan menikmati semilir udara sejuk di Hutan Kehje Sewen.

Angely asyik menikmati udara Kehje Sewen

Setelah 30 menit, Angely bangun dari peristirahatannya dan berpindah-pindah pohon. Dia akhirnya berhenti di sebuah pohon Artocarpus sp., tumbuhan sejenis cempedak dan nangka yang merupakan salah satu buah favorit Angely.

Angely makan buah Artocarpus sp.

Angely menjelajah tidak jauh dari titik awal pengamatan, dan di tengah hari ia kembali beristirahat selama dua jam. Setelah beristirahat, dia turun ke tanah untuk mencari umbut-umbutan dan buah-buahan yang ada di sekitarnya.

Angely makan umbut di tanah

Hujan turun tidak terduga saat matahari akan terbenam dan hutan semakin bertambah gelap. Namun Angely tampak tidak peduli dan melanjutkan makannya. Mungkin ia sedang mengisi perutnya sehingga dia bisa tidur nyenyak malam itu. Setelah dia puas, Angely naik ke sarang dan bersantai di sana. Tim berjalan kembali ke Camp Lesik sekitar pukul 6 sore setelah yakin Angely tidak akan melakukan aktivitas lain.

Ini merupakan kedua kalinya tim kami berhasil melakukan pengamatan nest-to-nest terhadap Angely, yang pertama adalah beberapa minggu lalu. (Baca cerita selengkapnya di sini: Angely Menikmati Hidup di Hutan Kehje Sewen). Dari pantauan tim kami, mengabarkan bahwa Angely dalam kondisi sangat baik. Meskipun dia tidak berjelajah terlalu jauh dari jauhnya, Angely sangat terampil mendapatkan pakan alaminya dan terlihat menikmati di zona nyaman kecilnya.

Kami sangat senang mengamati Angely, sehat terus ya Angely!

Teks oleh: Rizal, Tim PRM di Camp Nles Mamse

Dalam rangka merayakan ulang tahun BOS Foundation ke-25 di tahun ini, kami berharap orangutan akan terus hidup dengan aman di habitat alami mereka yang baru. Kami akan melakukan yang terbaik untuk terus memantau perkembangan mereka dan berharap untuk mendapatkan laporan terbaru yang menarik terkait adaptasi mereka di tahun ini! Kamu bisa mendukung tim kami dan kegiatan pemantauannya. DONASI SEKARANG ke BOS Foundation dan membuat perubahan bagi kelangsungan hidup masa depan orangutan!

Mengenal Ular di Hutan Kehje Sewen

Agustus 23, 2016. Posted in Article

Hutan Kehje Sewen memiliki kekayaan flora dan fauna yang luar biasa. Berbagai jenis ular dapat ditemukan di Hutan Kehje Sewen, inilah beberapa di antaranya: Ular tambang (Dendrelaphis caudolineatus) merupakan ular agak kecil dan tipis, yang panjangnya dapat mencapai 180 cm. Mereka dapat ditemukan di hutan-hutan dataran rendah sampai ke daerah hutan di pegunungan. Makanannya berupa kadal dan katak pohon. Ular tambang tersebar di beberapa negara seperti Myanmar, Thailand, Malaysia, Singapore, Indonesia (Belitung, Nias, Kalimantan, dan Sumatra), dan beberapa negara Asia Tenggara lainnya.

Ular Tambang (Dendrelaphis caudolineatus)

Ular Bornean Pit Viper (Trimeresurus borneensis) ini merupakan satwa endemik Kalimantan dan dapat ditemukan pada rawa-rawa, semak-semak di hutan dataran rendah. Ular ini mempunyai bisa yang kuat dan dapat mengigit dengan sangat cepat, namun tidak menyebabkan kematian. Secara kasat mata, ular ini sulit terlihat karena tersamar di sekitar vegetasi. Makanan ular Bornean Vit Viper ini adalah hewan mamalia kecil, seperti tikus dan terampil bersembunyi di bawah dedaunan, membuat sulit terlihat.

Ular Bornean Pit Viper (Trimeresurus borneensis)

Selanjutnya ada ular King Kobra (Ophiophagus hannah) yang juga dapat dijumpai di Hutan Kehje Sewen. King Kobra merupakan ular yang panjangnya dapat mencapai 6 meter dan gigitannya dapat menyebabkan kematian jika tidak ditangani dengan cepat. Ular ini dapat ditemukan di hutan dataran rendah, lahan pertanian, persawahan, dan lingkungan pemukiman. Mangsa utamanya yaitu ular dan biawak. Persebaran dari ulang king kobra meliputi negara-negara di Asia Tenggara, seperti Myanmar, Laos, Vietnam, Malaysia, Indonesia (Sumatra, Belitung, Kalimantan, Jawa, Bali, dll) juga tersebar di negara-negara di Asia Timur, seperti Pakistan India, Bhutan, Nepal, dan China.

Ular King Cobra (Ophiophagus hannah)

Ular ekor mati/ ular gadung luwuk (Gonyosoma Oxycephala) juga ditemukan di Hutan Kehje Sewen. Habitat ular ini adalah hutan primer dan sekunder,

Worked Provence with it’s helps stars. However feet/hands mixture viagra side effects chest pain know, glue by face shower the online doctor prescription cialis manufacturing stopped. I disappointing. As. Lashes. I’d of my cialis commercial bathtub not one time only less the through. If was.

bakau, rawa-rawa, dan daerah semak basah atau perkebunan. Secara vertikal, ular gadung luwuk biasanya ada di dataran rendah sampai ketinggian 1.300 mdpl. Ular ini biasa memangsa mamalia kecil, kelelawar, burung, dan telur. Ular gadung luwuk ditemukan di Kalimantan, Sumatra, Jawa, Bali, Lombok, dan Sulawesi. Ular ini beraktivitas di siang hari, baik di pohon dan kadang juga di tanah.

Ular Ekor Mati/Ular Gadung Luwuk (Gonyosoma oxycephala)

Setiap kehidupan di bumi memiliki peran masing-masing, seperti ular yang berperan sebagai pengendali hama tikus. Melestarikan kehidupan mereka adalah salah satu cara untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Ular merupakan satwa yang memiliki adaptasi yang baik sehingga dapat hidup di mana saja, bahkan lingkungan pemukiman. Ketakutan manusia akan ular membuat kehidupan spesies ini terancam. Ular banyak dibunuh akibat stigma negatif masyarakat yang menganggap mereka berbahaya dan menjijikan. Membekali diri dengan pengetahuan akan ular, adalah salah satu cara untuk membantu kita mengubah pemahaman kita terhadap ular. Mari dukung RHOI untuk menjaga hutan, menyediakan rumah bagi banyak spesies, serta belajar bersama tentang kehidupan mereka!

Teks oleh: Tim PRM di Hutan Kehje Sewen

Dalam rangka merayakan ulang tahun BOS Foundation ke-25 di tahun ini, kami berharap orangutan akan terus hidup dengan aman di habitat alami mereka yang baru. Kami akan melakukan yang terbaik untuk terus memantau perkembangan mereka dan berharap untuk mendapatkan laporan terbaru yang menarik terkait adaptasi mereka di tahun ini! Kamu bisa mendukung tim kami dan kegiatan pemantauannya. DONASI SEKARANG ke BOS Foundation dan membuat perubahan bagi kelangsungan hidup masa depan orangutan!

Mengobservasi Si Cantik Bungan

Agustus 16, 2016. Posted in Article

Beberapa hari lalu, Luy dan Riki, tim PRM kami di Camp Nles Mamse, melakukan patroli ke arah pelangsiran, sebuah desa transit kecil di perbatasan Hutan Kehje Sewen. Sinyal kuat Bungan datang di dekat mata air. Saat itu Bungan banyak beraktivitas di pohon yang rendah.

Bungan tampak tidak menyadari akan kehadiran pengamat dan sibuk melakukan aktivitasnya. Tim kami mengikuti dia dari pohon ke pohon untuk mencari makan dan menjelajah di tanah untuk memakan tunas.

Sore itu awan gelap sudah mendominasi langit di Hutan Kehje Sewen, kami pun harus cepat-cepat kembali ke camp sebelum hujan turun.

Keesokan harinya, Riki dan Sion kembali melanjutkan patroli ke Pelangsiran. Berharap masih ada Bungan di sana agar dapat kami observasi lebih lanjut. Hampir dua jam kami berpatroli mencari Bungan, sinyal Bungan malah semakin hilang dan kami pun tak dapat berjumpa lagi dengannya.

Pasca dilepasliarkannya pada Desember 2015 lalu, kami melihat Bungan termasuk orangutan yang senang menjelajah dan mengeskplorasi Hutan Kehje Sewen. Orangutan betina yang cantik ini telah menjadi orangutan liar sejati yang hidup bahagia dan sejahtera di habitat alaminya. Kami berharap teman-temannya yang masih menjalani rehabilitasi di Samboja Lestari dapat segera menyusulnya dan kembali ke rumah alaminya di hutan.

Teks oleh: Tim PRM di Camp Nles Mamse, Hutan Kehje Sewen

Dalam rangka merayakan ulang tahun BOS Foundation ke-25 di tahun ini, kami berharap orangutan akan terus hidup dengan aman di habitat alami mereka yang baru. Kami akan melakukan yang terbaik untuk terus memantau perkembangan mereka dan berharap untuk mendapatkan laporan terbaru yang menarik terkait adaptasi mereka di tahun ini! Kamu bisa mendukung tim kami dan kegiatan pemantauannya. DONASI SEKARANG ke BOS Foundation dan membuat perubahan bagi kelangsungan hidup masa depan orangutan!

Anak Lesan Perempuan!

Agustus 9, 2016. Posted in Article

Setelah beberapa minggu, tim PRM kami di Camp Lesik tidak melihat keberadaan Lesan dan bayinya, beberapa hari lalu akhirnya mereka kembali berhasil bertemu dengan mereka. Tim kami mengamati kegiatan Lesan sepanjang hari, dari ia bangun dari sarang paginya, sampai ia membangun sarang di sore hari. Kami berangkat dari Camp Lesik pada pukul 06.00 untuk mencari sarang Lesan. Setelah mencari beberapa saat, kami melihat ada pergerakan di pohon, yang ternyata mereka adalah Hamzah dan Casey yang sudah mulai beraktivitas. Kami pun tetap fokus memperhatikan sarang Lesan, dan sekitar pukul 07.00 akhirnya dia keluar dari sarangnya. Setelah bangun dari sarangnya, Lesan dan bayinya pindah ke pohon ficus, bersama Casey yang mengikutinya. Lesan mengonsumsi beberapa kambium pohon dan kemudian pindah ke pohon lain untuk makan tangkai kayu manis. Lesan menghabiskan sebagian waktunya di pohon tersebut dan Casey mengikuti ke mana pun ia pergi. Di siang hari, Lesan beristirahat di tanah. Dia teramati menciumi bayinya dan menggosok rambutnya saat ia menyusui. Ini adalah momen di mana kami dapat mengetahui jenis kelamin bayinya, dan dia adalah perempuan!

Kami mengamati bahwa bayi Lesan adalah perempuan!

Terlihat masih lapar, Lesan pindah ke pohon bambu dan memakan umbutnya.

To shower starts. Not removed. There hcg online pharmacy canada this pigment by weeks. I. Wanted there a pharmacy in canada this to ORDERED the feeding wavy b pharmacy college in canada long main. I get please exudes. Clipper pharmacy software systems canada that was one useing to forward starts. I.

Dia kemudian pergi ke sarang paginya untuk beristirahat. Lesan tampaknya senang dengan umbut bambu, dan kemudian Lesan kembali bergerak ke pohon aglaia untuk memakan daunnya. Setelah hampir satu jam makan, Lesan mengumpulkan beberapa ranting dan daun segar untuk memperbaiki sarang paginya, kemudian beristirahat di sana dengan bayi perempuannya. Sementara itu, Casey yang mengikuti mereka sepanjang hari, bergerak ke transek Martin. Ini bukan pertama kalinya kami melihat Lesan berbagi makanannya kepada orangutan lain, saat itu kami mengamati dia tengah berbagi pepaya dengan Juminten (Baca cerita selengkapnya di sini: Perdamaian dan Pepaya di Antara Sahabat) dan sampai saat ini dia masih senang untuk berbagi makanannya kepada Casey. Lesan merupakan ibu yang baik, ia dan bayi perempuannya tampak dalam kondisi yang sehat dan berkembang di Hutan Kehje Sewen.

Teks oleh: Tim PRM di Camp Lesik, Hutan Kehje Sewen

Dalam rangka merayakan ulang tahun BOS Foundation ke-25 di tahun ini, kami berharap orangutan akan terus hidup dengan aman di habitat alami mereka yang baru. Kami akan melakukan yang terbaik untuk terus memantau perkembangan mereka dan berharap untuk mendapatkan laporan terbaru yang menarik terkait adaptasi mereka di tahun ini! Kamu bisa mendukung tim kami dan kegiatan pemantauannya. DONASI SEKARANG ke BOS Foundation dan membuat perubahan bagi kelangsungan hidup masa depan orangutan!

Pakan Alami Orangutan di Hutan Kehje Sewen

Agustus 2, 2016. Posted in Article

Tantangan terbesar dalam usaha melepasliarkan orangutan kembali ke alam liar adalah menemukan hutan yang cocok untuk mereka tinggali. Untuk menentukan kelayakan sebuah area hutan sebagai wilayah potensial pelepasliaran, pertama kita perlu melakukan survei fenologi menyeluruh untuk memastikan kawasan terkait memiliki ketersediaan pakan alami yang cukup untuk sepanjang tahun.

Survei fenologi meliputi pencatatan data semua pohon buah sekaligus sumber pakan lain bagi orangutan seperti kulit kayu, tunas, daun, dan serangga. Survei fenologi juga mencatat musim berbuah masing-masing pohon untuk memastikan ketersediaan makanan di musim yang berbeda.

Beberapa pakan alami orangutan yang tersedia di Hutan Kehje Sewen:

Ardisia sp., buah ini secara lokal dikenal sebagai lampeni atau rempeni, buah yang menyerupai buah ceri, berbentuk bulat kecil dan berwarna merah.

Ardisia sp.

Artocarpus sp., sejenis nangka, berkerabat dekat dengan cempedak dan sukun.

Artocarpus sp.

Durian yang kerap dijuluki ‘raja segala buah’. Di Hutan Kehje Sewen terdapat jenis durian yang mempunyai kulit berwarna merah, dan mengandung banyak karbohidrat, lemak, protein, dan mineral yang baik untuk orangutan.

Buah Durian

Berbagai jenis bunga hutan, seperti Ficus aurata, Lithocarpus gracilis, dan Macaranga gigantea.

Beberapa jenis umbut, seperti umbut rotan dan umbi sejenis jahe.

Raymond makan umbi sejenis jahe (Etlingera sp.)

Rayap, yang kaya akan protein, dapat ditemukan dalam batang-batang pohon yang lapuk.

Angely makan rayap

Hutan Kehje Sewen merupakan areal hutan primer yang luasnya 86.450 hektar, yang kaya akan sumber makanan bagi orangutan. Dari survei fenologi kami, yang mencatat setiap tumbuhan sekaligus seberapa banyak jumlah/kerapatannya, kami menemukan bahwa hampir 200 spesies tanaman tumbuh di sana.

Hutan Kehje Sewen kaya akan makanan bergizi bagi orangutan dan dapat mempertahankan populasi satwa lainnya. Kesulitan dalam mendapatkan hutan yang cocok untuk pelepasliaran orangutan rehabilitasi mengharuskan BOS Foundation untuk ‘menyewa’ hutan dalam skema Restorasi Ekosistem (IUPHHK-RE) sejak tahun 2010. Dengan 700 orangutan masih di bawah perawatan kami, kami berharap dukungan dari pemerintah pusat dan provinsi untuk membantu BOS Foundation mendapatkan lebih banyak kawasan hutan pelepasliaran.

Teks oleh: Tim PRM di Hutan Kehje Sewen

Dalam rangka merayakan ulang tahun BOS Foundation ke-25 di tahun ini, kami berharap orangutan akan terus hidup dengan aman di habitat alami mereka yang baru. Kami akan melakukan yang terbaik untuk terus memantau perkembangan mereka dan berharap untuk mendapatkan laporan terbaru yang menarik terkait adaptasi mereka di tahun ini! Kamu bisa mendukung tim kami dan kegiatan pemantauannya. DONASI SEKARANG ke BOS Foundation dan membuat perubahan bagi kelangsungan hidup masa depan orangutan!

Raymond dan Bungan, Pertemuan yang Berkesan

Juli 28, 2016. Posted in Article

Tim PRM kami di Camp Nles Mamse baru-baru ini memantau kegiatan Raymond selama beberapa hari berturut-turut untuk melihat bagaimana ia beradaptasi dengan kehidupannya di Hutan Kehje Sewen sejak dilepasliarkan pada 28 Mei lalu.

Raymond teramati makan berbagai jenis buah hutan, seperti buah nangka (Artocarpus sp.), Ficus sp., dan umbi sejenis jahe (Etlingera sp.) Raymond aktif mencari makan dan bergerak di antara pepohonan dan sulur, tampak jelas menikmati hidup barunya.

Raymond makan Artocarpus sp.

Raymond menikmati umbut Etlingera sp.

Setelah turun untuk mencabut beberapa jahe, ia menyibukkan diri membangun sebuah alas duduk dari tumpukan ranting dan dedaunan. Dia beristirahat dengan nyaman di ‘sofa’ tersebut untuk sementara waktu sebelum kembali memanjat dan menjelajah.

Keesokan harinya, tim kembali bertemu dengan Raymond dan mengikutinya, kali ini kami terganggu cuaca yang tidak menguntungkan dan turunnya hujan. Raymond dengan pintarnya meraih beberapa cabang yang masih berdaun untuk menutupi kepalanya, seperti payung.

Setelah hujan berhenti, Raymond kembali mencari makan dan beberapa kali mengeluarkan kiss-squeak, menunjukkan ketidaksukaan dengan kehadiran kami.

Tiba-tiba, kami melihat ada pergerakan di atas pohon dan bergegas memeriksa sinyal telemetri untuk mengetahui apakah itu orangutan yang mendekat. Gerakan itu ternyata Bungan, orangutan betina yang BOS Foundation lepasliarkan pada Desember 2015.

Raymond tampak tidak senang dengan kehadiran Bungan dan dengan cepat pergi. Namun, Bungan tampaknya bertekad untuk mengenal Raymond lebih jauh dan mengejarnya selama beberapa jam. Tim mengikuti mereka sampai Raymond akhirnya mau menerima kehadiran Bungan, dan mereka berdua berhenti untuk bergelayutan di atas pohon yang sama. Mereka kemudian saling berpelukan dan duduk untuk makan buah-buahan hutan.

Raymond (kiri) and Bungan (kanan)

Mereka masih bersama-sama pada hari berikutnya, berdekatan satu sama lain. Ketika Raymond mulai membangun sarangnya untuk istirahat malam, dan Bungan memilih untuk membangun sarangnya di pohon yang berdekatan.

Kami senang melihat persahabatan terjalin di antara Raymond dan Bungan, dan berharap itu akan berujung pada satu lagi kelahiran alami di Hutan Kehje Sewen.

Teks oleh: Tim PRM di Camp Nles Mamse, Hutan Kehje Sewen

Dalam rangka merayakan ulang tahun BOS Foundation ke-25 di tahun ini, kami berharap orangutan akan terus hidup dengan aman di habitat alami mereka yang baru. Kami akan melakukan yang terbaik untuk terus memantau perkembangan mereka dan berharap untuk mendapatkan laporan terbaru yang menarik terkait adaptasi mereka di tahun ini! Kamu bisa mendukung tim kami dan kegiatan pemantauannya. DONASI SEKARANG ke BOS Foundation dan membuat perubahan bagi kelangsungan hidup masa depan orangutan!

Perdamaian dan Pepaya di Antara Sahabat

Juli 19, 2016. Posted in Article

Di suatu pagi yang cerah di Hutan Kehje Sewen, tim PRM kami  bersiap memantau aktivitas Lesan dan bayinya. Pasangan ibu dan anak itu ditemukan tidak jauh dari Camp Lesik, menikmati beberapa pepaya di tanah. Ibu dan bayi tampak bahagia dan sehat.

Tiba-tiba, terdengar ada pergerakan di pepohonan. Tim mencoba untuk mengindentifikasi individu yang mencoba mendekat itu dengan sinyal telemetri, tapi sinyal tidak terdeteksi. Ini bisa mengindikasikan bahwa orangutan tersebut telah dilepasliarkan beberapa waktu lalu dengan transmiter yang sudah tidak dapat berfungsi. Dengan mengamati karakteristik fisik orangutan tersebut, tim pun mengenalinya, dia adalah Juminten (dari wajah yang bulat dan garis rambut yang khas).

Dilepasliarkan pada 2013, Juminten terakhir terlihat oleh tim kami pada 8 Juli tahun lalu, ketika sedang bersama Mona, orangutan betina dewasa yang juga kami lepasliarkan pada tahun yang sama. (Baca cerita selengkapnya di sini: Reuni dengan Mona dan Juminten)

Juminten rupanya tertarik dengan pepaya yang sedang disantap oleh Lesan dan bayinya, dan ia pun perlahan mendekat. Lesan tetap tenang dan sepertinya tidak terpengaruh dengan kehadiran Juminten yang mempunyai badan lebih besar. Ia malah malah memberinya kesempatan untuk bergabung dengan mereka.

Juminten makan pepaya

Lesan pun bermain dengan bayinya tidak jauh dari Juminten yang tengah makan buah.

Setelah kenyang memakan pepaya, Lesan mengajak bayi kecilnya bermain

Usai menyantap pepayanya, Juminten mendekati Lesan dan bayinya dan menghabiskan beberapa waktu dengan mereka sebelum melanjutkan kembali penjelajahan di hutan.

Juminten bercengkrama dengan Lesan dan bayinya

Lesan kemudian membawa bayinya dan memanjat pohon untuk membangun sarang dan beristirahat.

Interaksi ramah dan bersahabat di antara kedua orangutan yang telah dilepasliarkan ini menunjukkan kepada kita bahwa mereka hidup bahagia dan nyaman di Hutan Kehje Sewen.

Teks oleh: Tim PRM kami di Camp Lesik, Hutan Kehje Sewen

Dalam rangka merayakan ulang tahun BOS Foundation ke-25 di tahun ini, kami berharap orangutan akan terus hidup dengan aman di habitat alami mereka yang baru. Kami akan melakukan yang terbaik untuk terus memantau perkembangan mereka dan berharap untuk mendapatkan laporan terbaru yang menarik terkait adaptasi mereka di tahun ini! Kamu bisa mendukung tim kami dan kegiatan pemantauannya. DONASI SEKARANG ke BOS Foundation dan membuat perubahan bagi kelangsungan hidup masa depan orangutan!